| SDN 1 Watupatok, Pusat Pelestarian Seni Budaya Pacitan |
Di ujung utara Kabupaten Pacitan, tepatnya di Desa Watupatok, Kecamatan Bandar, berdiri sebuah sekolah yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang penting bagi pelestarian seni dan budaya Jawa. SDN 1 Watupatok mengembangkan karawitan, gending Jawa, dan dalang bocah sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Kedekatannya dengan Situs Watupatok semakin memperkuat identitas sekolah sebagai salah satu pusat pembelajaran dan pelestarian budaya di Kabupaten Pacitan.
Berdasarkan buku Situs Watupatok: Sejarah Pacitan yang Terlupakan dan Dilupakan karya Agoes Hendriyanto, Djohan H., dan Amat Taufan, Watupatok memiliki jejak peradaban yang sangat tua. Hendriyanto dkk. (2024) mengemukakan adanya kemiripan antara prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Raja Dyah Balitung Watukura dengan tinggalan prasasti yang terdapat di kawasan Situs Watupatok. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa Watupatok telah menjadi wilayah perdikan sejak masa pemerintahan Dyah Balitung. Keberadaan Watupatok yang disebut dalam Nagarakretagama Pupuh 77 juga menjadi salah satu bahan penting dalam kajian mengenai keberadaan sistem pemerintahan di Pacitan pada masa lalu.
Jejak sejarah tersebut menjadi semakin menarik karena Watupatok berada di wilayah perbatasan Pacitan dengan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Wonogiri. Desa ini tidak hanya menyimpan situs bersejarah, tetapi juga memiliki kehidupan budaya yang terus berkembang. Situs Watupatok telah menjadi salah satu objek yang mendapat perhatian dalam inventarisasi budaya Pacitan. Di lingkungan yang sarat dengan jejak sejarah itulah SDN 1 Watupatok tumbuh sebagai sekolah yang menjadikan seni budaya sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Karawitan Menjadi Napas Kehidupan Sekolah
Di bawah kepemimpinan Dwi Irwanto, S.Pd., seorang kepala sekolah yang juga memiliki pengalaman sebagai seniman dan dalang wayang kulit, karawitan dikembangkan secara serius sebagai kegiatan unggulan sekolah. Sejak duduk di kelas I, siswa telah diperkenalkan dengan gamelan, karawitan, dan gending-gending Jawa. Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan alat musik, tetapi diarahkan agar anak mampu memainkan gamelan dan tampil di tengah masyarakat.
| Karwitan SDN Watupatok, Bandar Pacitan |
Sekolah bahkan telah memiliki Sanggar Seni Putra Laras dengan berbagai perangkat gamelan yang dikelola secara mandiri. Kegiatan latihan dilakukan secara rutin. Para siswa mempelajari berbagai instrumen gamelan sekaligus memahami gending-gending Jawa yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa. Menariknya, kegiatan tersebut justru menjadi kegemaran para siswa. Menurut Dwi Irwanto, latihan tiga kali dalam seminggu terkadang masih dirasakan kurang karena anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan karawitan.
Semangat tersebut terlihat dari keberanian para siswa tampil di berbagai kesempatan. Salah seorang siswa, Afnisa, bahkan telah dikenal melalui lantunan suara khasnya ketika membawakan gending Jawa sejak masih duduk di kelas II. Selain karawitan, sekolah juga membina dalang bocah, sehingga anak-anak memperoleh kesempatan untuk mengenal dunia pedalangan sekaligus tampil menghibur masyarakat.
Alumni Menjadi Guru bagi Generasi Berikutnya
Salah satu kekuatan SDN 1 Watupatok adalah keterlibatan para alumni dalam proses pembinaan seni. Dwi Irwanto memanfaatkan potensi alumni yang memiliki latar belakang pendidikan seni untuk kembali membimbing adik-adik kelasnya. Sebagian alumni sekolah tersebut melanjutkan pendidikan ke sekolah seni, termasuk SMKI/SMK Negeri 8 Surakarta dan ISI Surakarta.
Keterlibatan alumni menciptakan sebuah mata rantai pelestarian budaya. Anak-anak belajar dari para pelatih yang sebelumnya pernah menjadi siswa di sekolah yang sama. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang regenerasi seniman. Pengetahuan dan keterampilan seni yang diperoleh para alumni kembali diwariskan kepada generasi berikutnya.
Model semacam ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dari kegiatan besar. Pelestarian dapat dilakukan melalui kegiatan rutin di sekolah, latihan yang konsisten, keterlibatan guru, alumni, orang tua, dan masyarakat. Dari ruang sekolah yang sederhana dapat tumbuh generasi yang memiliki kemampuan sekaligus kecintaan terhadap budaya daerah.
Ketika Anak-Anak “Gandrung” Gamelan
Di tengah perkembangan teknologi digital, perhatian anak-anak terhadap budaya tradisional sering kali menghadapi tantangan. Gawai dan berbagai hiburan digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi di SDN 1 Watupatok. Anak-anak justru menunjukkan kegemaran terhadap gamelan, karawitan, dan gending Jawa.
Ungkapan bahwa anak-anak “gandrung” gamelan menggambarkan bagaimana kegiatan budaya dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan apabila diberikan melalui pendekatan yang tepat. Mereka tidak hanya belajar memainkan alat musik, tetapi juga memperoleh kesempatan tampil, berinteraksi, bekerja sama, dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran kepala sekolah, guru, pelatih, alumni, serta lingkungan masyarakat. Anak-anak membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ketika hasil latihan mendapatkan apresiasi, tumbuh rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap seni budaya sendiri.
Dari Sekolah Menuju Masyarakat
SDN 1 Watupatok juga tidak menempatkan seni sebagai kegiatan yang hanya dipertontonkan di lingkungan sekolah. Kelompok seni sekolah beberapa kali mendapat kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara pernikahan. Kehadiran mereka menjadi hiburan sekaligus menunjukkan bahwa anak-anak sekolah dasar mampu menjadi bagian dari kehidupan seni masyarakat.
Setiap tahun, sekolah juga mengikuti Festival Karawitan tingkat Kabupaten Pacitan dan berhasil memperoleh prestasi. Pencapaian tersebut menunjukkan adanya proses pembinaan yang berkelanjutan. Prestasi bukan semata-mata tujuan akhir, tetapi menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan diri siswa sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk mengenal panggung budaya.
Apabila dikaitkan dengan keberadaan Situs Watupatok, perkembangan seni budaya di SDN 1 Watupatok memiliki makna yang lebih luas. Warisan sejarah dan warisan budaya hidup dapat dipertemukan dalam satu kawasan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang masa lalu melalui situs sejarah, tetapi juga ikut menghidupkan budaya melalui karawitan, gending Jawa, dan pedalangan.
Menuju Sekolah Pelestari Budaya
Melihat potensi tersebut, SDN 1 Watupatok memiliki modal yang kuat untuk dikembangkan sebagai sekolah pelestari budaya. Penguatan dapat dilakukan melalui pembinaan karawitan secara berkelanjutan, dokumentasi kegiatan seni, pengembangan sanggar, keterlibatan alumni, kerja sama dengan seniman dan perguruan tinggi, serta integrasi sejarah Situs Watupatok ke dalam pembelajaran kontekstual.
Dukungan dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, juga penting agar potensi yang telah tumbuh dari inisiatif sekolah dapat memperoleh pembinaan dan penguatan kelembagaan. SDN 1 Watupatok dapat menjadi salah satu contoh bahwa pendidikan dan pelestarian budaya dapat berjalan bersama.
| Punya Prestasi Tingkat Kabupaten Pacitan |
Watupatok menyimpan jejak sejarah yang panjang. SDN 1 Watupatok kini sedang menulis babak baru sejarah itu melalui anak-anak yang belajar memainkan gamelan, melantunkan gending Jawa, dan belajar menjadi dalang. Situs sejarah mengajarkan anak tentang masa lalu, sementara seni budaya mengajarkan mereka bagaimana membawa warisan itu ke masa depan.
Karena itu, mengunjungi SDN 1 Watupatok sekaligus Situs Watupatok bukan hanya perjalanan melihat sebuah sekolah dan situs sejarah, tetapi juga menyaksikan bagaimana generasi muda Pacitan sedang belajar menjaga identitas budayanya sendiri.
Lestari budayaku, jayalah Indonesiaku.
Penulis: Suyadi, M.Pd.