Sungai Baksooka Punung, Jejak Lanskap Prasejarah dan Awal Penelitian Arkeologi di Pacitan

Sungai Baksooka Menjadi Pusat Penelitian Arkelologi sejak abad 19

PACITAN TERKINI – Bentang alam Sungai Baksooka di kawasan Punung, Kabupaten Pacitan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tercatat sebagai salah satu lokasi penting penelitian arkeologi masa kolonial Belanda. Alur sungai yang berkelok di tengah perbukitan kapur, disertai tebing-tebing yang tererosi dan memperlihatkan lapisan tanah serta batuan, menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk menelusuri jejak peradaban manusia purba.

Pada bagian depan foto tampak sejumlah sosok manusia yang duduk mengamati lanskap sungai. Mereka diduga merupakan peneliti atau pendamping lokal yang tengah melakukan pengamatan lapangan. Adegan ini merepresentasikan aktivitas observasi ilmiah yang lazim dilakukan dalam ekspedisi arkeologi pada periode akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sungai Baksooka

Sungai Baksooka, yang terdokumentasi dalam kurun waktu 1915–1930, dikenal luas sebagai salah satu “magnet” penelitian prasejarah. Di kawasan sekitarnya ditemukan berbagai artefak Zaman Batu, seperti alat serpih dan indikasi hunian manusia awal. Lanskap karst Punung dengan jaringan sungai purbanya menyediakan sumber air, bahan baku batuan, serta lingkungan yang mendukung keberlangsungan hidup manusia prasejarah.

Foto koleksi Perpustakaan Leiden, Belanda, ini tidak hanya merekam kondisi alam semata, tetapi juga menjadi bukti visual awal perkembangan kajian arkeologi prasejarah di Pacitan. Dokumentasi tersebut turut menegaskan posisi kawasan Punung sebagai salah satu pusat penting penelitian peradaban manusia Zaman Batu di Indonesia.

Lebih baru Lebih lama