Socio Cultura Indonesia Siapkan Gebrakan Literasi Budaya, Luncurkan Ensiklopedia Peradaban Pacitan dan Beskap Ber-HKI



PACITAN TERKINILembaga  Socio Cultura Indonesia (SCI) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai motor penggerak pelestarian sejarah, budaya, dan literasi di Kabupaten Pacitan. Melalui forum diskusi yang berlangsung di Cafe Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Selasa (4/8/2026), organisasi yang dipimpin dan diperkuat oleh kalangan akademisi serta budayawan tersebut mematangkan agenda peluncuran dua karya monumental yang diyakini akan memperkaya khazanah kebudayaan Pacitan.

Diskusi yang dipimpin Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, menghadirkan Dr. Agoes Hendriyanto, akademisi, budayawan, sekaligus tokoh LSM Socio Cultura Indonesia. Pertemuan tersebut membahas langkah strategis peluncuran "Ensiklopedia Pacitan Misteri IV: Torehan Peradaban Pacitanian" serta pengembangan karya "Rekonstruksi Desain Beskap Pacitan Awal Abad XX Berbasis Arsip Fotografi Kolonial Leiden Belanda" yang telah resmi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, budaya, penelitian, dan literasi, Socio Cultura Indonesia selama ini konsisten melakukan inventarisasi, dokumentasi, penelitian, hingga publikasi berbagai kekayaan sejarah dan budaya Pacitan. Organisasi ini memandang bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan aset strategis yang harus dilindungi, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang melalui pendekatan ilmiah dan inovatif.

Keberhasilan memperoleh HKI atas rekonstruksi Beskap Pacitan menjadi salah satu bukti nyata komitmen Socio Cultura Indonesia dalam mengangkat identitas budaya lokal ke tingkat nasional. Rekonstruksi tersebut lahir dari penelitian mendalam terhadap arsip fotografi kolonial di Leiden, Belanda, sehingga menghadirkan kembali busana khas Pacitan awal abad ke-20 sebagai bagian dari penguatan jati diri budaya daerah.

Tidak berhenti pada pelindungan karya budaya, Socio Cultura Indonesia juga tengah menyiapkan peluncuran "Ensiklopedia Pacitan Misteri IV: Torehan Peradaban Pacitanian", sebuah karya yang mengupas jejak-jejak peradaban Pacitan melalui pendekatan sejarah, arkeologi, antropologi, dan budaya. Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi akademisi, peneliti, pelajar, pemerintah, hingga masyarakat umum dalam memahami perjalanan panjang peradaban Pacitan.

Agenda besar berikutnya adalah peluncuran buku "Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya", yang akan melengkapi dokumentasi ilmiah mengenai kekayaan geografis, sosial, dan budaya Kabupaten Pacitan. Kedua buku tersebut direncanakan diluncurkan secara bertahap, diawali pada September atau Oktober 2026, sebagai bagian dari gerakan literasi budaya yang diinisiasi Socio Cultura Indonesia bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pacitan, Amat Taufan, mengapresiasi peran Socio Cultura Indonesia dalam membangun ekosistem literasi sejarah di daerah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan pegiat budaya merupakan fondasi penting untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi.

Melalui berbagai riset, publikasi, dan karya yang telah memperoleh pengakuan hukum, Socio Cultura Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu lembaga yang konsisten mengawal pelestarian sejarah dan kebudayaan Pacitan. Gerakan ini diharapkan mampu menjadikan Pacitan tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki kekayaan peradaban, tradisi, dan pengetahuan lokal yang terdokumentasi secara ilmiah serta diakui secara nasional.

Lebih baru Lebih lama