Koin Tali Jagad Kapitayan Pacitanian: Jejak Keyakinan Pribumi dan Kosmologi Purba Pacitan

 

PACITAN TERKINI - Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri.

Pacitan bukan sekadar dikenal sebagai kota seribu goa atau wilayah dengan jejak manusia purba tertua di Nusantara. Di balik lanskap alamnya yang eksotis, tersimpan lapisan sejarah spiritual dan peradaban yang jauh lebih tua dari masuknya agama-agama besar ke tanah Jawa. Salah satu jejak penting itu diyakini hadir dalam Situs Koin Tali Jagad Kapitayan Pacitanian, sebuah artefak langka yang sarat makna kosmologis dan filosofi leluhur.

Jejak Kapitayan di Bumi Selatan Jawa

Situs ini diperkirakan berasal dari masa peralihan Zaman Batu menuju Zaman Besi, jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha maupun Islam. Pada masa tersebut, masyarakat Pacitanian diyakini menganut Agama Kapitayan, sebuah sistem kepercayaan pribumi asli Jawa yang berakar pada pemujaan terhadap kekuatan semesta dan keselarasan kosmos.

Artefak utama situs ini berupa koin logam berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 15–20 sentimeter, terbuat dari campuran tembaga, kuningan, dan emas 18 karat. Kehalusan bahan dan teknik pembuatannya menunjukkan bahwa masyarakat Pacitan purbakala telah memiliki pengetahuan metalurgi yang maju.

Simbol Semar, Petruk, dan Kosmologi Semesta

Pada permukaan koin kuno tersebut tergambar dua tokoh sentral: Semar dan Nolo Petruk. Dalam tafsir filosofi Kapitayan Pacitanian, Semar melambangkan alam langit, sementara Petruk merepresentasikan bumi, tempat kehidupan manusia dan seluruh makhluk bernaung.

Keduanya disatukan dalam bentuk lingkaran (bulat) yang melambangkan siklus semesta, kesatuan utuh antara bumi dan langit, lahir dan batin, mikro dan makro kosmos. Pada bagian tengah koin terdapat bentuk segi empat, simbol empat penjuru mata angin: utara, selatan, timur, dan barat, sebagai penanda keteraturan ruang dan keseimbangan alam.

Simbolisasi ini menegaskan pandangan kosmologis masyarakat purba Pacitan yang telah memahami konsep harmoni semesta—bahwa kehidupan berjalan dalam kesatuan yang saling terhubung antara langit, bumi, dan manusia.

Tulisan Kuno dan Bukti Literasi Purba

Yang semakin memperkuat nilai penting situs ini adalah ditemukannya tulisan atau lambang kuno pada koin, dengan bentuk yang menyerupai aksara Palawa. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa masyarakat Pacitan purbakala telah mengenal tradisi tulis dan baca, sebuah capaian peradaban yang tinggi pada masanya.

Temuan ini sekaligus menantang anggapan bahwa literasi di Jawa baru berkembang setelah masuknya pengaruh luar. Situs Koin Tali Jagad justru menunjukkan adanya pengetahuan lokal mandiri yang tumbuh dari rahim budaya Pacitan sendiri.

Artefak Sakral dan Tanggung Jawab Pelestarian

Situs Koin Tali Jagad Kapitayan Pacitanian hingga kini dikenal sangat langka dan sakral. Artefak tersebut diyakini hanya dimiliki dan dirawat oleh tokoh-tokoh masyarakat tertentu yang memahami nilai spiritual dan historisnya. Keberadaannya bukan sekadar benda kuno, melainkan penjaga ingatan kolektif tentang jati diri Pacitan sebagai bumi peradaban tua.

Pelestarian situs ini menjadi tanggung jawab bersama—bukan hanya pewarisnya, tetapi juga masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah—agar tidak terputus oleh zaman dan tetap hidup sebagai sumber pengetahuan lintas generasi.

Pacitan, Bumi Tua Penuh Makna

Situs ini menegaskan bahwa Pacitan telah memiliki sistem keyakinan, kosmologi, dan teknologi jauh sebelum agama-agama besar hadir di Nusantara. Ia menjadi bukti nyata bahwa peradaban manusia di bumi selatan Jawa telah mengenal keseimbangan, simbol, dan makna hidup sejak masa purbakala.

Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun, tumrap kita sedaya, keluarga, lan para penerus Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW, sarta bumi langit sak isine—agar warisan leluhur ini tetap lestari, dipahami, dan dimuliakan. (Amat Taufan).




Lebih baru Lebih lama