Sularno, Perajin Tempe Debog Lorog Ngadirojo yang Menjaga Rasa di Tengah Pangan Modern

Sularno Pengrajin Tempe Debog, Taman, Hadiwarno, Ngadirojo

 

PACITAN TERKINI - Di tengah derasnya arus modernisasi pangan dan mesin-mesin produksi yang kian mendominasi, tempe debog lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, masih bertahan sebagai penanda rasa dan ingatan kolektif. Salah satu penjaganya adalah Sularno (56), perajin tempe debog lorog asal Dusun Taman, Desa Hadiwarno, yang setia menekuni usaha ini sejak tahun 2008.

Bagi Sularno, tempe bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan keluarga yang telah hidup lintas generasi. Ilmu membuat tempe debog ia peroleh dari ibunya, Sawitri, yang sebelumnya belajar dari orang tuanya, Katiminem–Suparti. Dari garis pengetahuan itulah Sularno kini berdiri sebagai generasi ketiga perajin tempe debog lorog.

“Sejak kecil saya sudah kenal tempe debog. Saat itu di rumah ibunya  hampir setiap rumah bikin,” tutur Sularno.

Jejak Sejarah Sejak Awal Abad ke-20

Berdasarkan hasil wawancara dan penelusuran lapangan, tempe debog lorog diperkirakan telah ada sejak awal abad ke-20, atau sekitar 90 tahun lalu. Tidak ada cerita rakyat atau mitos khusus yang menyertai pembuatannya, namun keberadaannya mengakar kuat dalam praktik keseharian masyarakat.

Sekcam Ngadirojo

Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Camat Ngadirojo, Dra. Ari Peni, yang menjelaskan bahwa tempe debog telah lama menjadi industri rumah tangga di wilayah Ngadirojo.

“Dulu hampir di seluruh desa ada. Sekarang masih ada, tapi jumlahnya berkurang karena kalah cepat dengan usaha yang sudah pakai mesin,” jelasnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Ngadirojo, Senin (26/1/2026).

Ngadirojo sendiri terdiri dari 18 desa, dan menurut keterangan Sekdes Sidomulyo, Ruslianto, serta Sekdes Wonodadi Wetan, perajin tempe debog masih dapat dijumpai meski jumlahnya kian menyusut.

Debog Lorog, Pembungkus yang Menentukan Rasa

Keistimewaan tempe ini terletak pada debog lorog—bagian batang pisang—yang digunakan sebagai pembungkus. Dahulu, debog yang dipakai berasal dari pisang awak. Pilihan ini bukan tanpa alasan.

“Rasanya beda. Lebih gurih, ada aroma khas. Tidak bisa diganti plastik atau daun biasa,” kata Sularno.

Debog bukan hanya pembungkus, tetapi juga bagian dari teknologi tradisional yang memengaruhi fermentasi dan karakter rasa tempe.


Proses Panjang, Rasa yang Dijaga

Pembuatan tempe debog lorog memerlukan ketelatenan dan waktu. Prosesnya berlangsung sekitar lima hari.

Dimulai dari pembuatan wadah tempe dari debog yang dipotong dengan ukuran sekitar 60 cm dan 40 cm. Kedelai kemudian digiling, direndam, dimasak, lalu direndam dan dicuci berulang hingga bersih—proses yang memakan waktu tiga hari.

Hari berikutnya, kedelai diangin-anginkan di lantai beralas untuk mengurangi kadar air. Setelah itu dicampur ragi dan diratakan, lalu dimasukkan ke dalam wadah debog. Pada hari keempat, tempe disandarkan miring di tembok agar air tersisa mengalir ke bawah, demi meningkatkan kualitas fermentasi. Hari kelima, tempe siap dipasarkan.

Bertahan di Tengah Tekanan Modernisasi

Dalam sehari, usaha tempe debog lorog Sularno mampu menghabiskan 4–5 kuintal kedelai. Ukurannya besar, harganya terjangkau, dan pasarnya jelas. Setiap pagi, para penjual sayur keliling menjadi pelanggan setia yang datang mengambil tempe langsung ke rumah produksi.

Namun, untuk pesanan dalam jumlah besar, Sularno menyarankan pemesanan terlebih dahulu.

“Biar tidak kehabisan,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah dominasi tempe modern berbungkus plastik dan proses serba mesin, Sularno tetap bertahan dengan cara lama. Baginya, mempertahankan tempe debog lorog bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga menjaga rasa, tradisi, dan identitas lokal.


Menjaga Warisan, Menyapa Masa Depan

Tempe debog lorog Ngadirojo adalah contoh nyata pengetahuan tradisional yang hidup melalui praktik, bukan buku teks. Ia bertahan karena ada orang-orang seperti Sularno—yang memilih setia pada proses panjang dan rasa khas, meski zaman terus berubah.

Bagi masyarakat yang ingin merasakan atau memesan tempe debog lorog, dapat langsung datang ke:

📍 Dusun Taman,  Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan
📱 WhatsApp: 0819-4446-6809

Di sanalah, di balik debog yang sederhana, rasa masa lalu masih dijaga—pelan, sabar, dan penuh makna.



Lebih baru Lebih lama