Ringkasan Buku Sirnoboyo Pacitan: Sejarah, Tradisi, dan Identitas Budaya (Dana Indonesiana 2025)

Ringkasan Buku Sirnoboyo Pacitan: Sejarah, Tradisi, dan Identitas Budaya (Dana Indonesiana 2025)


PACITAN TERKINI - Buku Sirnoboyo Pacitan: Sejarah, Tradisi, dan Identitas Budaya mendokumentasikan perjalanan sejarah dan perkembangan kebudayaan Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Buku ini berupaya merekonstruksi sejarah desa dengan memadukan sumber sejarah, tradisi lisan, peninggalan situs, prasasti, serta nilai-nilai spiritual dan budaya yang masih hidup di masyarakat.

Salah satu pembahasan penting adalah penetapan 24 Agustus 1745 M atau Senin Kliwon sebagai Hari Jadi Desa Sirnoboyo. Penetapan tersebut dikaitkan dengan perjalanan leluhur dari Sirin/Candi Suruh menuju Sirnoboyo dan pembangunan Masjid Ageng Asin yang kemudian dikaitkan dengan keberadaan Masjid Miftahul Jannah. Bukti pendukungnya antara lain prasasti beraksara Pegon dan tradisi Rajah Qithmir yang masih dikenal masyarakat.

Buku juga menguraikan prasasti Pegon dan Rajah Qithmir sebagai peninggalan yang memiliki nilai historis sekaligus spiritual. Prasasti tersebut menjadi sumber penting dalam menelusuri perjalanan leluhur, perkembangan Islam, keberadaan masjid sebagai pusat dakwah, serta hubungan antara tradisi keagamaan dan kebudayaan lokal.

Selain sejarah awal desa, buku membahas tradisi, situs sejarah, tokoh masyarakat, praktik keagamaan, gotong royong, serta nilai-nilai kearifan lokal yang membentuk identitas masyarakat Sirnoboyo. Warisan tersebut dipandang bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagian akhir buku mengarah pada upaya menjaga warisan dan membangun masa depan desa. Sejarah dan budaya Sirnoboyo dipandang dapat menjadi dasar penguatan identitas kultural dan branding desa. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pendidikan, digitalisasi arsip sejarah, festival budaya, promosi melalui media sosial, serta pengembangan wisata berbasis budaya dan religi.

Dengan demikian, buku ini tidak sekadar mencatat masa lalu Sirnoboyo, tetapi menempatkan sejarah, tradisi, situs, dan nilai spiritual sebagai modal sosial dan budaya untuk membangun desa yang maju tanpa kehilangan jati diri. Hari jadi desa kemudian dimaknai sebagai momentum untuk mengenang leluhur, memperkuat persatuan masyarakat, merawat warisan budaya, dan menyiapkan generasi mendatang.

Inti buku:

Buku ini merupakan upaya merekonstruksi sejarah Desa Sirnoboyo melalui jejak prasasti, tradisi, situs, spiritualitas, dan kebudayaan lokal, sekaligus menjadikan warisan tersebut sebagai fondasi penguatan identitas dan pembangunan desa di masa depan.

Lebih baru Lebih lama