Gunung Jogo Jagad: Jejak Sakral Purbakala dalam Ensiklopedia Pacitan Kota Misteri


Penulis: Amat Taufan (Kadinasperpusip Pacitan)

Bismillah. Salam Literasi Sejarah.

Pacitan tidak hanya dikenal sebagai kota seribu gua dan pesona pantai selatan, tetapi juga sebagai ruang panjang sejarah bumi yang menyimpan lapisan misteri peradaban manusia. Salah satu simpul penting dalam narasi tersebut adalah Citus Gunung Jogo Jagad, sebuah titik sakral yang hingga kini masih menyisakan jejak geologis, kultural, dan spiritual.

Secara geografis, Gunung Jogo Jagad diperkirakan berada di kawasan laut selatan Pacitan, sekitar 260 kilometer dari Teluk Kota Pacitan, dengan kedalaman laut antara 3–4 kilometer. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2850 meter, menjadikannya bagian dari lanskap purba yang terbentuk jauh sebelum konfigurasi daratan Nusantara seperti sekarang.

Gunung Sakral Zaman Purbakala

Dalam perspektif sejarah purba, Gunung Jogo Jagad diyakini telah ada sejak abad purbakala, ketika zaman es belum sepenuhnya mencair dan daratan bumi masih menyatu. Pada masa itu, wilayah Punung, Pacitan, dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan manusia purba. Pola hidup manusia saat itu bersifat nomaden, berpindah mengikuti sumber pangan dan kondisi alam yang masih sangat dinamis, dengan aktivitas gunung berapi dan bentang pegunungan yang aktif.

Di tengah kondisi alam tersebut, Gunung Jogo Jagad menempati posisi istimewa. Gunung ini disakralkan oleh manusia purba sebagai pusat kosmologi dan spiritualitas. Kepercayaan yang dianut pada masa itu dikenal oleh penulis sebagai “Pacitanian”, sebuah sistem keyakinan purba yang memuliakan alam sebagai sumber kehidupan sekaligus kekuatan adikodrati.

Persilangan Spiritualitas Dunia

Memasuki abad ke-5 hingga ke-7 Masehi, kawasan Pacitan tidak lagi terisolasi. Sejumlah penganut agama dan kepercayaan besar dunia—seperti Khong Hu Cu, Hindu, dan Buddha—dipercaya menjadikan Gunung Jogo Jagad sebagai tujuan pencarian spiritual. Para rahib dan pendeta dari daratan Tiongkok dan wilayah Asia lainnya menembus hutan belantara Pacitan untuk melakukan ritual, semedi, dan laku tapa.

Tradisi sakral ini tidak terputus ketika Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad ke-8 Masehi. Sejumlah alim ulama dari wilayah Persia dan Jazirah Arab, yang dalam tradisi lokal dikenal antara lain sebagai Syekh Damsyik atau Syekh Subakir, diyakini pernah hadir di tanah Jawa, termasuk wilayah Pacitan. Tujuannya adalah melakukan ritual spiritual untuk “menumbalkan” atau menyucikan bumi Jawa agar membawa keberkahan—sebuah praktik yang sejatinya memiliki benang merah dengan ritual-ritual pra-Islam sebelumnya.

Menariknya, lokasi ritual tersebut digambarkan berada di titik daratan atau laut yang menghadap langsung ke Gunung Jogo Jagad, seolah menjadikan gunung ini sebagai poros pandang spiritual lintas zaman.

Jejak Alam yang Masih Hidup

Hingga hari ini, Citus Gunung Jogo Jagad diyakini masih “berbicara” melalui alam. Munculnya sumber mata air panas di beberapa wilayah Pacitan serta cairan berunsur belerang di titik-titik tertentu dianggap sebagai sisa aktivitas geologis gunung purba tersebut. Fenomena alam ini tidak hanya menjadi kajian ilmiah, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif masyarakat Pacitan tentang hubungan sakral antara manusia dan bumi.

Warisan Adat dan Adab Pacitan

Gunung Jogo Jagad, dalam narasi Ensiklopedia Pacitan Kota Misteri, bukan sekadar gunung atau situs geografis. Ia adalah simbol kesinambungan hidup dan kehidupan, dari zaman purbakala hingga masa kini. Nilai-nilai adat dan adab masyarakat Pacitan—yang menjunjung kebajikan, keseimbangan, dan keselarasan dengan alam—dipandang sebagai warisan panjang dari sejarah spiritual tersebut.

Pacitan, dengan segala misterinya, adalah ruang pertemuan antara bumi, manusia, dan keyakinan. Gunung Jogo Jagad menjadi salah satu saksi bisu bagaimana peradaban dibentuk bukan hanya oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh laku batin dan kesadaran kosmik.

Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun dhateng kita sedaya, keluarga, lan para penerus Kanjeng Nabi Muhammad SAW, saha bumi lan langit sak isine.



Lebih baru Lebih lama