| Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd. |
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd. (*)
(*) Akademisi, penggiat wisata dan budaya
Ada ungkapan Jawa yang terasa semakin relevan ketika kehidupan manusia dihadapkan pada berbagai cobaan: “Eling lan waspada.” Ingat kepada Sang Pencipta, sadar terhadap keadaan, dan senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebab, zaman terus bergerak, sementara ancaman dapat datang kapan saja, dari arah yang tidak selalu kita duga.
Orang-orang tua dahulu kerap mengingatkan, “Zamane wis tuwa, setan wis ana ing dalan-dalan.” Zaman sudah tua, setan sudah berada di jalan-jalan. Ungkapan ini bukan semata-mata gambaran tentang makhluk gaib, melainkan juga bisa dimaknai sebagai peringatan moral agar manusia semakin berhati-hati menghadapi kehidupan yang penuh godaan, kelalaian, dan ketidakpastian.
Hari ini, jalan-jalan kehidupan itu terasa semakin terjal. Kebakaran dapat menghanguskan rumah dan tempat usaha dalam hitungan menit. Kekeringan membuat sumber air menyusut, sawah mengering, dan masyarakat harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, hujan deras yang mengguyur kawasan perbukitan dapat memicu banjir bandang, membawa lumpur, bebatuan, dan material lain yang merusak apa saja di sepanjang alirannya.
Bencana seolah menjadi bayang-bayang yang senantiasa mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Ketika Alam Memberi Peringatan
Api tidak pernah bertanya siapa pemilik rumah yang dilahapnya. Kekeringan tidak memilih siapa yang harus kesulitan mendapatkan air. Banjir bandang pun tidak mengenal batas kekayaan atau kedudukan. Ketika bencana datang, siapa pun dapat menjadi korban.
Namun, di balik setiap peristiwa, ada pelajaran yang patut direnungkan. Sebagian bencana berkaitan dengan proses alam, sementara sebagian lainnya dapat diperparah oleh tindakan manusia, kerusakan lingkungan, tata ruang yang kurang memperhatikan risiko, atau kelalaian dalam menjaga keselamatan.
Kebakaran, misalnya, dapat terjadi akibat korsleting listrik, penggunaan api yang tidak aman, maupun kelalaian kecil yang dianggap sepele. Kekeringan menjadi semakin berat ketika daerah resapan air berkurang, hutan rusak, dan sumber air tidak dikelola dengan baik. Adapun banjir bandang dapat menimbulkan dampak lebih besar ketika kawasan hulu kehilangan kemampuan menyerap air atau permukiman berkembang di wilayah rawan bencana.
Karena itu, kewaspadaan bukan berarti hidup dalam ketakutan. Kewaspadaan justru merupakan kesadaran untuk mengenali risiko, memperbaiki kebiasaan, menjaga lingkungan, dan menyiapkan diri sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.
Eling: Mengingat Batas Kemampuan Manusia
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, eling mengandung makna yang luas. Eling kepada Tuhan, eling terhadap asal-usul, eling terhadap sesama, dan eling bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Manusia boleh membangun rumah yang megah, mendirikan gedung bertingkat, membuka lahan, mengembangkan teknologi, dan merancang berbagai kemajuan. Namun, semua itu tetap harus disertai kesadaran bahwa alam memiliki keseimbangan yang perlu dijaga.
Ketika manusia merasa mampu menguasai segalanya, sering kali muncul sikap abai. Hutan ditebang tanpa memperhatikan kelestariannya. Sampah dibuang ke sungai. Saluran air dibiarkan tersumbat. Instalasi listrik tidak diperiksa. Persediaan air tidak dikelola untuk menghadapi musim kemarau.
Hal-hal yang tampak kecil tersebut dapat menumpuk menjadi persoalan besar.
Eling mengajak manusia berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah cara kita hidup sudah selaras dengan alam? Apakah pembangunan yang kita lakukan telah mempertimbangkan keselamatan bersama? Apakah kita sudah memikirkan dampak tindakan hari ini bagi anak cucu kelak?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab menjaga kehidupan tidak cukup hanya melalui doa dan harapan. Kesadaran harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Waspada: Jangan Menunggu Bencana Datang
Jika eling mengajarkan kesadaran, maka waspada mengajarkan kesiapsiagaan.
Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan perlu memahami tanda-tanda bahaya, terutama ketika hujan deras berlangsung lama. Warga yang tinggal di daerah rawan banjir perlu mengetahui jalur evakuasi dan lokasi aman. Rumah tangga juga perlu memastikan instalasi listrik dalam kondisi baik, menggunakan api secara hati-hati, serta mengetahui langkah awal ketika terjadi kebakaran.
Pada musim kemarau, pengelolaan air harus menjadi perhatian bersama. Menjaga mata air, merawat kawasan resapan, menampung air hujan jika memungkinkan, dan menggunakan air secara bijaksana merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak kekeringan.
Pemerintah desa, relawan, tokoh masyarakat, dan warga perlu membangun komunikasi yang baik. Informasi peringatan dini harus disampaikan dengan cepat, jelas, dan dapat dipercaya. Simulasi evakuasi serta edukasi kebencanaan juga perlu dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah sebuah peristiwa menimbulkan korban.
Kesiapsiagaan bukan pekerjaan satu atau dua orang. Ia membutuhkan kesadaran kolektif dan kebiasaan saling menjaga.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Sosial
Ketika bencana terjadi, yang pertama kali dibutuhkan korban bukan hanya bantuan berupa uang atau barang, tetapi juga kehadiran sesama manusia. Ada tetangga yang membantu memadamkan api, warga yang mengevakuasi orang lanjut usia, relawan yang mendistribusikan air bersih, serta masyarakat yang bersama-sama membersihkan rumah dan jalan setelah banjir surut.
Di sinilah gotong royong menemukan maknanya yang paling nyata.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang tidak pernah menghadapi bencana, melainkan masyarakat yang mampu bersiap, saling melindungi, dan bangkit kembali setelah mengalami kesulitan.
Kepedulian tidak perlu menunggu instruksi. Ketika melihat saluran air tersumbat, bersihkan bersama. Ketika mengetahui tetangga kesulitan mendapatkan air, ulurkan bantuan sesuai kemampuan. Ketika ada peringatan bahaya, sampaikan informasi yang benar dan jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Namun, gotong royong juga harus berjalan bersama tanggung jawab pemerintah dan lembaga terkait. Upaya pencegahan, pembangunan infrastruktur yang aman, perlindungan lingkungan, penyediaan air bersih, dan penanganan darurat membutuhkan kebijakan serta dukungan yang memadai.
Kemandirian masyarakat dan tanggung jawab pemerintah bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan.
Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan
Ungkapan “zaman sudah tua, setan sudah di jalan-jalan” dapat menjadi bahan perenungan tentang keadaan manusia saat ini. Di tengah perubahan zaman, manusia menghadapi tantangan bukan hanya dari bencana alam, tetapi juga dari perilaku yang menjauhkan dirinya dari tanggung jawab, kepedulian, dan kebijaksanaan.
Keserakahan, ketidakpedulian, serta kebiasaan meremehkan risiko dapat memperbesar ancaman yang sebenarnya bisa dikurangi. Sebaliknya, kesadaran, ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap alam dapat menjadi benteng kehidupan.
Kita memang tidak mampu menghentikan semua proses alam. Hujan akan turun, musim kemarau akan datang, dan risiko bencana akan selalu ada. Namun, manusia dapat mengurangi kerentanan melalui perencanaan yang baik, perilaku yang bertanggung jawab, serta kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Jangan sampai kita baru mengingat pentingnya hutan setelah banjir bandang melanda. Jangan baru menyadari pentingnya air ketika sumur mengering. Jangan baru memeriksa instalasi listrik setelah api melalap rumah.
Kesadaran yang datang sebelum bencana jauh lebih berharga daripada penyesalan yang datang sesudahnya.
Eling lan Waspada, Jalan Merawat Kehidupan
Pada akhirnya, eling lan waspada bukan sekadar ungkapan yang diwariskan oleh orang-orang tua. Ia merupakan pedoman hidup yang dapat diterapkan dalam keluarga, masyarakat, dan penyelenggaraan pembangunan.
Eling mengingatkan kita agar tidak kehilangan arah dan tidak melupakan tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama manusia, serta alam. Waspada mengajarkan kita untuk membaca tanda-tanda bahaya, mempersiapkan diri, dan bertindak sebelum terlambat.
Bencana kebakaran, kekeringan, dan banjir bandang memang dapat mengintai kehidupan. Akan tetapi, ketakutan tidak boleh membuat kita menyerah. Justru di tengah ketidakpastian, kita harus memperkuat kepedulian, menjaga lingkungan, membangun kesiapsiagaan, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Eling marang Gusti, eling marang sesami, lan eling marang alam. Waspada ing saben tindak, ngati-ati ing saben langkah.
Ingat kepada Tuhan, ingat kepada sesama, dan ingatlah bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang kehidupan yang wajib kita rawat bersama.
Sebab, menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah tanggung jawab kita semua.