Dari Kepedulian kepada Yatim Piatu, Darul Ulum Tumbuh Menjadi Pondok Pesantren

Pondok Pesantren Darul Ulum di Barehan, Sidoharjo, Pacitan

 

BAREHAN, SIDOHARJO – Perjalanan Pondok Pesantren Darul Ulum di Barehan, Kelurahan  Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, berawal dari kepedulian terhadap anak-anak yatim piatu. Cikal bakal lembaga tersebut bermula dari berdirinya Yayasan Peduli Yatim Piatu Darussalam pada 2005, yang dirintis oleh almarhum Kiai Khoirul Anwar.

Sejak awal berdiri, yayasan tidak hanya diarahkan sebagai wadah kepedulian sosial terhadap anak-anak yatim piatu, tetapi juga menjadi tempat pendidikan dan pembinaan keagamaan. Kiai Khoirul Anwar berupaya mengembangkan kegiatan yang memberikan perhatian kepada anak-anak sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan agama dan pembentukan akhlak.

“Awalnya kami ingin membantu anak-anak yatim piatu agar mendapatkan perhatian dan pendidikan agama. Dari kegiatan tersebut, lembaga kemudian terus berkembang,” demikian keterangan pihak pengelola.

Perkembangan tersebut kemudian mengantarkan Yayasan Peduli Yatim Piatu Darussalam menjadi Pondok Pesantren Darul Ulum pada 2021. Perubahan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan lembaga, terutama dalam memperluas fungsi pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Setelah menjadi pondok pesantren, kegiatan pendidikan dilaksanakan melalui pembelajaran di kelas yang dipadukan dengan pendidikan agama, pembelajaran Al-Qur’an, pendampingan secara langsung, serta pembiasaan disiplin dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami berusaha agar santri tidak hanya memahami materi yang diajarkan, tetapi juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Toha Hasan Anwar.

Pendidikan di Darul Ulum diarahkan untuk membangun keseimbangan antara pemahaman pengetahuan keagamaan dan praktik kehidupan sehari-hari. Para santri mendapatkan pendampingan dari para pengajar dalam memahami materi sekaligus dibimbing untuk membiasakan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari.

Perjalanan lembaga tersebut mengalami perubahan besar setelah Kiai Khoirul Anwar wafat pada 2024. Sepeninggal pendiri, amanah pengelolaan lembaga diteruskan oleh istrinya, Sumarti, bersama putranya, Toha Hasan Anwar.

Keduanya berupaya mempertahankan keberlangsungan kegiatan yayasan dan Pondok Pesantren Darul Ulum sekaligus meneruskan cita-cita yang telah dirintis sejak 2005.

“Setelah beliau wafat, kami berusaha meneruskan apa yang sudah dirintis sejak tahun 2005, sehingga pendidikan dan pembinaan santri tetap berlangsung,” tutur Sumarti.

Pengurus Pondk Psantren Darul Ulum

Kini, Pondok Pesantren Darul Ulum menjalankan pendidikan melalui perpaduan pembelajaran di dalam kelas, pendidikan keagamaan, pembelajaran Al-Qur’an, serta pembentukan karakter. Pola tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren untuk membangun generasi muda yang memiliki pemahaman agama sekaligus akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.

Perjalanan Darul Ulum menunjukkan bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh dari kepedulian sosial yang sederhana. Dari Yayasan Peduli Yatim Piatu Darussalam pada 2005, berkembang menjadi Pondok Pesantren Darul Ulum pada 2021, kemudian terus dilanjutkan setelah wafatnya sang pendiri pada 2024.

Bagi pengelola, keberlanjutan Darul Ulum bukan sekadar mempertahankan sebuah lembaga, tetapi juga meneruskan amanah dan cita-cita pendirinya dalam memberikan pendidikan serta pembinaan kepada generasi muda.

“Harapan kami, Darul Ulum dapat terus menjadi tempat belajar yang memberikan manfaat bagi santri, khususnya dalam ilmu agama, Al-Qur’an, dan pembentukan akhlak,” kata Toha Hasan Anwar.

Penulis: Siti Solikhah - PBSI STKIP PGRI Pacitan

Lebih baru Lebih lama