Pacitan Mencari Identitas Budaya: FGD Dana Indonesiana Agoes Hendriyanto Jadi Titik Awal

Pacitan Mencari Identitas Budaya: FGD Dana Indonesiana Agoes Hendriyanto Jadi Titik Awal

PACITAN TERKINI - Upaya pelestarian warisan budaya Kabupaten Pacitan terus didorong melalui kegiatan inventarisasi, kajian, dokumentasi, dan diseminasi. Salah satu langkah tersebut dilakukan Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd., penerima pendanaan Dana Indonesiana 2025 dengan ID 32255, melalui kegiatan “Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya di Kabupaten Pacitan.” Program tersebut dilaksanakan melalui CV Socio Cultura Indonesia. Informasi mengenai Agoes Hendriyanto sebagai penerima pendanaan Dana Indonesiana 2025 ID 32255 juga tercantum dalam publikasi kegiatan FGD dan luaran program.

Sebagai bagian dari pelaksanaan program tersebut, Agoes menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) I “Diseminasi Luaran dan Dialog Budaya”, Rabu (9/9/2026), di Aula STKIP PGRI Pacitan. Kegiatan mengusung tema “Merawat Budaya, Menguatkan Peradaban Pacitan untuk Indonesia” dan mempertemukan pemerintah, akademisi, budayawan, komunitas, pegiat literasi, lembaga pendidikan, serta generasi muda. Kegiatan dengan moderator Mahasiswi PBSI STKIP PGRI Pacitan Naisa Tricilia M dan didukung oleh Whiam Marsya sebagai pembawa lagu menjadikan kegiatan berlangsung lancar dan santai.

Dr. Agoes Hendriyanto,   Dana Indonesiana bukan sekadar dukungan pendanaan, tetapi kesempatan untuk mengubah hasil kajian menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Karena itu, program yang dijalankannya tidak berhenti pada inventarisasi, tetapi diarahkan menghasilkan berbagai luaran, termasuk buku Ensiklopedia Pacitan Misteri 4: Rekam Jejak Peradaban Dunia Pacitanian, publikasi ilmiah, dokumentasi kebudayaan, serta luaran kekayaan intelektual. Salah satu artikel hasil kajian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal nasional terakreditasi SINTA 3.

“Mendiseminasikan luaran, mendengarkan pengalaman masyarakat, sekaligus memperoleh tanggapan terhadap nilai dan manfaat luaran bagi pelestarian budaya Pacitan,” ujar Agoes Hendriyanto.

Narasumber FGD 1

Budaya Harus Memberi Manfaat bagi Masyarakat

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pacitan, Amad Topan, yang juga menjadi narasumber sekaligus penulis buku Ensiklopedia Pacitan Misteri IV: Torehan Peradaban Dunia Pacitanian, menekankan besarnya potensi sejarah dan kebudayaan yang dimiliki Pacitan.

Menurutnya, inventarisasi objek pemajuan kebudayaan bukan sekadar aktivitas mencatat dan mendata. Hasil inventarisasi harus dapat menjadi pijakan untuk memahami, menjaga, mengembangkan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Inventarisasi objek pemajuan kebudayaan bukan sekadar mencatat apa yang kita miliki. Yang lebih penting adalah bagaimana kekayaan itu bisa kita pahami, kita rawat, kita kembangkan, dan kemudian memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Pandangan tersebut menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan daerah. Warisan budaya tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran, penguatan identitas, pengembangan literasi, serta inspirasi bagi pengembangan ekonomi dan pariwisata berbasis budaya.

Enam WBTBI Pacitan Menjadi Modal Pelestarian

Dalam dialog budaya, Suyadi, M.Pd., menyoroti perjalanan Agoes dalam mendorong pencatatan warisan budaya Pacitan. Menurutnya, enam warisan budaya Pacitan yang telah tercatat sebagai WBTBI sejak 2016, yakni Kethek Ogleng, Brojo Geni, Badut Sinampurno, Tetaken, Baritan, dan Jangkrik Genggong, semestinya tidak berhenti setelah mendapatkan pengakuan.

“Yang sudah dicatat harus dikembangkan dan dilestarikan. Jangan sampai kita justru mengembangkan budaya daerah lain sementara kekayaan budaya sendiri belum maksimal dikembangkan,” ujarnya.

Suyadi juga mengingatkan pentingnya menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari pendidikan generasi muda. Ia mencontohkan Festival Kethek Ogleng untuk pelajar yang diselenggarakan Agoes Hendriyanto bersama Balai Kebudayaan Jawa Timur pada 2023 sebagai salah satu bentuk upaya memperkenalkan budaya lokal kepada peserta didik.

 
FGD I Dana Indonesiana 2025, Agoes Hendriyanto Ajak Pacitan Jadikan Budaya sebagai Kekuatan Peradaban

Menurutnya, keberadaan Kethek Ogleng dan budaya lokal lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari muatan lokal, terlebih kebudayaan tersebut telah masuk dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Pacitan.

Dana Indonesiana Membuka Ruang bagi Seniman dan Komunitas

Narasumber lainnya, Faris Wibisono, menegaskan bahwa Dana Indonesiana memiliki posisi penting dalam pengembangan ekosistem kebudayaan. Program tersebut dapat dimanfaatkan oleh seniman, kelompok seni, maupun paguyuban budaya untuk mengembangkan kapasitas dan karya mereka.

Faris mendorong pelaku budaya Pacitan agar melihat Dana Indonesiana sebagai peluang untuk mengembangkan gagasan dan kreativitas. Pendanaan kebudayaan, menurutnya, dapat menjadi instrumen untuk memperkuat keberlanjutan komunitas budaya apabila dimanfaatkan secara tepat.

Sementara itu, Nuryahman, S.S., Ketua Tim Kerja Pemeliharaan Objek Pemajuan Kebudayaan Jawa Timur, mengajak masyarakat dan komunitas budaya untuk tidak ragu mengajukan proposal Dana Indonesiana.

“Jangan takut mengajukan proposal untuk Dana Indonesiana. Akan didampingi sampai tuntas, mulai administrasi hingga pertanggungjawabannya,” ujarnya.

Dari Dana Indonesiana Menjadi Gerakan Literasi Budaya

FGD I yang digagas penerima Dana Indonesiana Agoes Hendriyanto–ID 32255 tersebut menunjukkan bahwa dukungan pendanaan kebudayaan dapat diarahkan menjadi gerakan pengetahuan dan literasi budaya. Data lapangan, pengetahuan masyarakat, dokumentasi sejarah, serta kajian akademik dipertemukan untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih sistematis.

 
Foto Bersama peserta FGD 1

Agoes mengucapkan terima kasih kepada Dr. Djoko Asisten ahli Bupati, Nuryahman Balai Pelestarian Jawa Timur, Kadis Perhubungan, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan beserta staf, Camat Pacitan yang mewakili, wakil dari RSUD dr. Darsono, Camat Ngadirojo, Camat Punung, Wakil Dinas Pendidikan provinsi Jawa Timur, PPLP PT PGRI Pacitan, fungsionaris STKIP PGRI Pacitan, mahasiswa STKIP PGRI Pacitan, Kepala Museum Song Terus,  Ansor, Wakil IAIT, Pemilik Janenake 7 Pacitan Cruiser, penggiat budaya, dan penggiat literasi.

FGD II akan direncanakan Bulan November 2026 dengan membahas dari hasil kesepakatan FGD 1 yakni memunculkan identitas Pacitan sebenarnya.  Seperti halnya Ponorogo dengan Reyognya ataupun Banyuwangi dengan Gandrungnya.

Dengan demikian, program “Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya di Kabupaten Pacitan” tidak hanya menjadi sebuah kegiatan penelitian, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat.

Agoes Hendriyanto – ID 32255 menjadi titik penting dalam program tersebut: penerima pendanaan, pelaksana kajian, sekaligus penggerak diseminasi hasil untuk mendorong agar warisan budaya Pacitan tidak hanya dicatat, tetapi dipahami, dikembangkan, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penulis: Risa Zainul & Reva (UKM Jurnalistik STKIP PGRI Pacitan)

Lebih baru Lebih lama