| Alun-alun Pacitan awal Abad 20 |
PACITAN TERKINI - Alun-alun Pacitan antara tahun 1915-1930 dengan dikelilingi arah utara pendopo Pacitan, barat Masjid Jami, dan Timur Pasar sedangkan selatan lembaga pendidikan. Foto memperlihatkan di tengah kota-kota Jawa lama, selalu ada ruang lapang yang tampak sederhana: alun-alun. Tanpa dinding tinggi, tanpa bangunan megah di pusatnya, namun justru dari ruang “kosong” inilah denyut kekuasaan, budaya, dan kehidupan masyarakat berawal. Dalam kosmologi Jawa, alun-alun bukan sekadar lapangan, melainkan ruang sakral yang menyatukan langit, manusia, dan bumi.
Alun-alun Pacitan bukan sekadar ruang kota, melainkan teks budaya yang sarat tanda. Untuk membacanya secara lebih dalam, teori semiotika Roland Barthes memberi perangkat analitis yang tajam: denotasi, konotasi, dan mitos. Melalui lensa ini, alun-alun dapat dipahami sebagai sistem makna yang bekerja melampaui fungsi fisiknya.
1. Denotasi: Alun-alun sebagai Lapangan Kota
Pada tingkat denotatif, alun-alun adalah:
-
Lapangan terbuka
-
Hamparan rumput luas
-
Dikelilingi bangunan penting (pendopo, masjid, pasar)
-
Ditanami pohon besar (sering beringin)
Makna pada tingkat ini bersifat literal dan fungsional. Dalam istilah Barthes, inilah makna tingkat pertama, yang dapat ditangkap oleh siapa pun tanpa pengetahuan budaya khusus.
2. Konotasi: Simbol Keseimbangan dan Kekuasaan
Pada tingkat konotatif, alun-alun mulai berbicara sebagai simbol budaya Jawa:
-
Ruang tengah (pancer) → keseimbangan kosmis
-
Keterbukaan ruang → keterhubungan rakyat dan penguasa
-
Beringin → perlindungan, keadilan, dan kebijaksanaan
-
Orientasi bangunan → harmoni duniawi dan spiritual
Di sinilah alun-alun menjadi penanda nilai-nilai Jawa: rukun, selaras, tertib, dan eling.
Menurut Barthes, konotasi lahir dari kode budaya yang hanya dapat dibaca oleh masyarakat yang hidup dalam sistem makna tersebut.
3. Mitos: Alun-alun sebagai “Kebenaran Alamiah”
Pada tingkat ketiga, alun-alun memasuki wilayah mitos. Barthes menyebut mitos sebagai proses ketika makna budaya tertentu tampil seolah-olah alami, wajar, dan tak terbantahkan.
Jika kita kaitkan dengan kosmologi Jawa sebagai berikut:
Ruang Tengah: Titik Keseimbangan Semesta
Kosmologi Jawa mengenal konsep “tengah” (pancer)—titik keseimbangan antara empat penjuru mata angin (kiblat papat). Alun-alun ditempatkan sebagai pancer kota, pusat orientasi ruang sekaligus simbol keseimbangan hidup.
Di sekeliling alun-alun biasanya berdiri:
-
Keraton atau pendopo bupati (kekuasaan duniawi)
-
Masjid agung (kekuasaan spiritual)
-
Pasar (denyut ekonomi rakyat)
Ketiganya mengitari alun-alun sebagai penanda bahwa kekuasaan, agama, dan kehidupan sosial harus berjalan selaras.
Beringin Kembar: Penjaga Harmoni
Pada banyak alun-alun Jawa, berdiri beringin kembar di tengah lapangan. Pohon ini bukan hiasan semata. Beringin melambangkan:
-
Kebijaksanaan dan keadilan
-
Perlindungan bagi rakyat
-
Hubungan vertikal antara bumi dan langit
Akar yang menjulur ke tanah dan dahan yang menggapai langit merepresentasikan manusia Jawa yang hidup seimbang antara dunia nyata dan dunia batin.
Ruang Kekuasaan yang Terbuka
Berbeda dengan konsep plaza di Barat yang monumental, alun-alun Jawa justru terbuka dan egaliter. Rakyat boleh masuk, duduk, berkumpul, bahkan menyaksikan langsung penguasa lewat prosesi resmi.
Namun keterbukaan ini juga sarat makna:
-
Alun-alun menjadi tempat sabda dan titah penguasa diumumkan
-
Tempat upacara, hukuman, hingga legitimasi kekuasaan
-
Ruang ujian moral: penguasa berada di hadapan rakyat dan semesta
Dalam pandangan Jawa, pemimpin yang baik adalah ia yang berani berdiri di ruang terbuka, disaksikan rakyat dan alam.
Alun-alun sebagai Ruang Ritus dan Laku Sosial
Selain fungsi pemerintahan, alun-alun juga menjadi arena:
-
Grebeg, sekaten, dan perayaan keagamaan
-
Kirab budaya dan sedekah bumi
-
Tempat berkumpul tanpa sekat status sosial
Di sinilah kosmologi Jawa bekerja secara nyata: ritus, tradisi, dan kehidupan sehari-hari menyatu dalam satu ruang.
Dari Sakral ke Profan: Perubahan Zaman
Seiring modernisasi, banyak alun-alun kehilangan makna kosmologisnya. Ia berubah menjadi taman kota, ruang hiburan, bahkan sekadar lokasi parkir dan pasar malam. Namun jejak kosmologi itu tak sepenuhnya hilang.
Setiap kali masyarakat berkumpul, setiap kali upacara digelar, sesungguhnya alun-alun kembali menjalankan fungsi aslinya: ruang temu antara manusia, kekuasaan, dan semesta.
Alun-alun Pacitan: Jejak Kosmologi di Kota Pesisir
Dalam konteks Pacitan, alun-alun lama—seperti yang terekam dalam foto kolonial awal abad ke-20—menunjukkan penerapan kosmologi Jawa yang berpadu dengan tata kota kolonial. Ruang terbuka, pepohonan besar, dan orientasi terhadap pusat pemerintahan menjadi penanda bahwa kosmologi Jawa tetap hidup, meski berada dalam arus modernisasi dan kolonialisme.
Alun-alun dalam kosmologi Jawa mengajarkan bahwa ruang kosong bukan berarti hampa. Ia justru penuh makna, menjadi tempat manusia belajar tentang keseimbangan, kebersamaan, dan kesadaran akan posisinya di tengah semesta.
Di sanalah Jawa meletakkan kebijaksanaannya: di ruang terbuka, bukan di balik tembok.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, S.P.,M.Pd.