Pada masa ketika listrik belum dikenal sebagai sumber energi, muncul berbagai alat rumah tangga berbasis kearifan teknologi zamannya, salah satunya adalah setrika arang.
Setrika arang merupakan alat vital dalam kehidupan masyarakat golongan menengah ke atas, termasuk kaum priyayi dan pejabat kolonial Belanda. Keberadaan alat ini berkaitan erat dengan mulai tumbuhnya aktivitas formal dan budaya berbusana rapi, yang menjadi penanda status sosial dan etika pergaulan pada masa itu. Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan juga sebagai simbol martabat, kewibawaan, dan keteraturan hidup.
Secara material, setrika arang dibuat dari besi kuningan, dibentuk menyerupai perahu atau kapal laut, dengan panjang sekitar 25–30 cm. Desainnya dilengkapi sistem buka–tutup di bagian atas serta lubang-lubang ventilasi udara yang tidak hanya berfungsi teknis sebagai pengatur panas, tetapi juga menampilkan estetika tinggi khas kerajinan logam masa lalu. Energi penggeraknya berasal dari arang kayu yang dibakar hingga menghasilkan bara api, lalu panas tersebut dimanfaatkan untuk merapikan kain dan pakaian.
Penggunaan setrika arang menuntut ketelitian, kesabaran, dan keterampilan, mencerminkan tingkat penguasaan teknologi rumah tangga yang maju pada zamannya. Alat ini menjadi simbol gaya hidup tertib dan beradab, terutama di lingkungan priyayi yang menempatkan kerapian sebagai bagian dari etos sosial dan budaya.
Seiring perkembangan teknologi modern, setrika arang perlahan ditinggalkan dan tergantikan oleh setrika listrik dan uap. Namun demikian, artefak ini tetap memiliki nilai penting sebagai jejak sejarah teknologi, bukti bahwa masyarakat masa lalu telah mengembangkan solusi teknis yang canggih, fungsional, dan berkelanjutan sesuai dengan konteks zamannya.
Setrika arang, dengan demikian, bukan hanya benda mati, melainkan teks budaya yang merekam pengetahuan, nilai, dan cara pandang masyarakat Pacitan pada masa lalu—sebuah bukti bahwa teknologi tradisional Nusantara sarat dengan fungsi, estetika, dan filosofi kehidupan.
Mugi Gusti Allah SWT paring berkahipun dhumateng kita sedaya—kula, kulawarga, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW—sareng bumi, langit, lan sak isiné.
Penulis: Amat Taufan