| Pringkuku-Pacitan Sumber Joekes, L.V. (1938) |
Musyawarah dan Kebersamaan
Posisi duduk melingkar di tanah menunjukkan tradisi musyawarah yang egaliter. Tidak tampak sekat sosial yang tegas; semua duduk sejajar. Ini mencerminkan nilai Jawa:
rembug bebarengan (berunding bersama)Keputusan penting kemungkinan diambil melalui mufakat, bukan paksaan.
Kesederhanaan dan Kedekatan dengan Alam
Pertemuan dilakukan di alam terbuka, memanfaatkan keteduhan pepohonan, tanpa bangunan formal. Hal ini menunjukkan:
-
Hidup sederhana
-
Harmoni dengan alam
-
Alam sebagai ruang sosial dan spiritual
Bagi masyarakat Pringkuku, alam bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi ruang hidup dan ruang kebudayaan.
Guyub Rukun
Ekspresi tubuh yang tenang dan jarak duduk yang dekat menggambarkan rasa guyub, saling percaya, dan keterikatan sosial yang kuat. Ini selaras dengan karakter masyarakat pesisir–pedalaman Pacitan yang menjunjung: rukun agawe santosa
Laku Tertib dan Etika Sosial
Cara duduk bersila, berpakaian sopan, dan sikap tubuh yang tertata menunjukkan unggah-ungguh (tata krama Jawa). Bahkan dalam pertemuan informal, etika tetap dijaga.
Tradisi Lisan dan Pengetahuan Kolektif
Tanpa catatan tertulis, nilai-nilai, pengetahuan lokal, dan keputusan hidup kemungkinan diwariskan melalui tradisi tutur. Forum seperti ini menjadi ruang:
-
Penyampaian petuah
-
Pengetahuan adat
-
Kesepakatan sosial
Ketahanan Budaya di Tengah Kolonialisme
Foto berasal dari masa kolonial, maka pertemuan semacam ini juga mencerminkan daya tahan budaya lokal. Di tengah tekanan administrasi kolonial, masyarakat tetap mempraktikkan nilai-nilai asli mereka.
Berdasarkan pengamatan visual pada foto tersebut, pakaian penduduk Pringkuku, Pacitan, saat itu dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Busana Laki-laki Sederhana dan Fungsional
Sebagian besar laki-laki mengenakan:
-
Baju lengan panjang atau pendek polos, berwarna terang (putih atau krem), tanpa hiasan
-
Celana panjang atau celana sebatas betis, longgar, dari bahan kain sederhana
-
Beberapa tampak menggulung lengan baju, menandakan pakaian dipakai untuk aktivitas harian, bukan seremoni
Pakaian ini mencerminkan fungsi praktis, sesuai dengan iklim panas dan aktivitas agraris.
Kain dan Sarung sebagai Busana Bawah
Beberapa orang terlihat mengenakan:
-
Kain atau sarung polos, dililitkan di pinggang
-
Cara pemakaian sederhana, tanpa lipatan rumit
Hal ini menunjukkan kuatnya tradisi berpakaian Jawa yang masih bertahan, terutama di wilayah pedesaan.
Penutup Kepala Tradisional
Sebagian pria memakai:
-
Ikat kepala (iket/blangkon sederhana) atau penutup kepala dari kain
-
Ada pula yang tidak berpenutup kepala, menyesuaikan situasi informal
Iket berfungsi ganda: penanda identitas budaya sekaligus pelindung dari panas.
Tanpa Alas Kaki
Mayoritas tampak bertelanjang kaki, menandakan:
-
Kedekatan dengan alam
-
Kesederhanaan hidup
-
Kondisi ekonomi masyarakat desa pada masa itu
Keseragaman yang Alami
Tidak terlihat perbedaan mencolok dalam pakaian:
-
Hampir semua berpakaian sederhana
-
Tidak ada atribut status sosial yang menonjol
Ini mencerminkan kesetaraan sosial dalam komunitas desa.
Makna Budaya Pakaian
Busana yang dikenakan mencerminkan nilai:
-
Prasaja (kesederhanaan)
-
Tepa slira (menyesuaikan diri dengan lingkungan)
-
Ora gumunan, ora kagetan (tidak berlebihan)