PACITAN TERKINI - Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri kembali membuka lembaran penting perjalanan bangsa melalui penelusuran Situs Peta Perjanjian Perang Jawa (1825–1830), sebuah jejak sejarah yang menegaskan posisi Pacitan sebagai wilayah perlawanan yang teguh dan tidak pernah berkhianat kepada bumi pertiwi.
Diperkirakan pada tahun 1830, setelah Pangeran Diponegoro berhasil menguasai wilayah Pacitan dan sekitarnya, terjadi perubahan besar dalam transisi kekuasaan di wilayah ini. Pacitan saat itu berada dalam pengaruh Pangeran Diponegoro dan Kerajaan Yogyakarta, sehingga tidak tunduk kepada kekuasaan kolonial Belanda.
Dalam upaya mengonsolidasikan kekuasaan pasca-Perang Jawa, Pemerintah Kolonial Belanda menggelar pertemuan besar para adipati wilayah Mancanegara Brang Wetan di Spreh, Ngawi. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Raad van Indie, Mr. Pieter Markus, Komisaris Pengatur Wilayah Vorstenlanden.
Namun, rapat ini tidak dihadiri seluruh adipati. Tercatat hanya 23 adipati Brang Wetan yang hadir, sementara Adipati Pacitan tidak datang, sebagai bentuk keteguhan sikap karena Pacitan berada dalam kekuasaan dan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Keputusan rapat itu menjadi titik balik sejarah Jawa. Kolonial Belanda menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Brang Wetan dicabut dari kekuasaan Kerajaan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, lalu dianeksasi langsung oleh pemerintah kolonial.
Wilayah-wilayah yang adipatinya tidak hadir karena tetap setia kepada Pangeran Diponegoro dianggap dihapus kekuasaannya dan ditempatkan di bawah kendali langsung Belanda.
Situs Peta Perjanjian ini menjadi bukti nyata dampak besar Perang Jawa 1825–1830, yang berakhir dengan runtuhnya kekuasaan politik keraton dan kasultanan di seluruh Jawa. Namun di balik kekalahan militer Pangeran Diponegoro, tersimpan nilai luhur perjuangan.
Pacitan tercatat sebagai wilayah pejuang, tanah yang tidak tunduk oleh rasa takut, berbeda dengan sebagian adipati Brang Wetan yang memilih menghadiri rapat kolonial demi menyelamatkan kedudukan mereka.
Pasca perjanjian, Belanda mengangkat Mas Tumenggung Djogokarjo sebagai Adipati Pacitan sebuah penunjukan yang menandai awal kekuasaan kolonial secara administratif di wilayah ini. Walaupun putranya sebagai prajurit Pangeran Diponegoro.
Dalam peta yang sama, tergambar pula wilayah Lorok yang oleh Belanda dimasukkan sebagai bagian integral dari Kadipaten Ponorogo, memperlihatkan bagaimana kolonial secara sistematis mengubah peta politik dan wilayah Jawa.
Mas Tumenggung Jogokaryo, yang saat itu Pacitan diperintah oleh Kasultanan Yogyakarta, saat perang Diponegoro Jokokaryo dengan anaknya silih berganti untuk membantu Pangeran Diponegoro.
Joyoniman / Kanjeng Jimat / Jokokaryo tahun 1830 berhenti menjadi Bupati Pacitan untuk mengabdi pada Pangeran Diponegoro saat perang Diponegoro untuk menggantikan Jogokaryo II anaknya. Selanjutnya Jogokaryo II bisa kembali ke Pacitan menjadi Bupati Pacitan dengan gelar Mas Tumenggung Djogokaryo II.
Pangeran Diponegoro kalah (1830) dibuang ke Menado, Jogokaryo kanjeng Jimat karena membantu Pangeran Diponegoro, ditetapkan sebagai pemberontak oleh Pakubuwono VII (1830-1858).
Belum setahun mendapatkan pengampunan Sri Baginda dan diperbolehkan pulang ke Pacitan dengan dimaafkan dan dianugerahi nama “Kiai Jimat”.
Selanjutnya Jokokaryo 1/ Joyoniman/ Kiai Jimat setelah pulang ke Pacitan, dihukum dibuang di Besuki, memperoleh uang pension 100 gulden setara 15 juta rupiah uang sekarang.
Dari peta dan situs sejarah tersebut, tergambar jelas bahwa Bumi Pacitan adalah benteng terakhir Pangeran Diponegoro dalam mengobarkan perlawanan di tanah Jawa.
Meski pada akhirnya beliau harus mengakui kekalahan dalam Perang Jawa, sejarah meninggalkan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar menang dan kalah.
Sebuah filosofi perjuangan yang abadi terpatri kuat dari Pacitan:
“Berjuang terus hingga akhir hayat demi kebenaran di jalan Allah SWT, meskipun pada akhirnya harus kalah.”
Nilai inilah yang menjadikan Pacitan bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang sejarah perjuangan, kesetiaan, dan kehormatan anak bangsa.
Penulis: Amat Taufan