PACITAN TERKINI - Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri. Di balik sunyi sejarah Pacitan, tersimpan sebuah peninggalan teknologi tradisional yang hingga kini masih lestari dan menyimpan kekaguman tersendiri. Salah satunya adalah sebuah alat penentu waktu yang dikenal masyarakat sebagai “Jam Priyayi”, sebuah jam mekanik tanpa listrik yang diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga ke-19 M, pada masa kolonial Belanda.
Pada masa itu, jam bukanlah benda umum seperti sekarang. Alat penunjuk waktu ini digunakan oleh kalangan tertentu, seperti golongan entenaur atau priyayi, pegawai pemerintahan kolonial, demang, onder, serta masyarakat kelas menengah ke atas yang membutuhkan ketepatan waktu untuk kepentingan dinas, administrasi, dan aktivitas niaga.
Secara fisik, Jam Priyayi memiliki ukuran sekitar 80 sentimeter tinggi dan 30 sentimeter lebar, dilengkapi jarum penunjuk waktu serta angka waktu berbentuk kotak segi empat. Bentuknya sederhana namun sarat makna teknologi.
Keunikan utama jam ini terletak pada mekanisme penggeraknya. Tidak menggunakan energi listrik ataupun baterai seperti jam modern, Jam Priyayi bekerja dengan bandul logam yang bergerak secara ritmis. Di dalam sistemnya terdapat unsur magnet yang menciptakan medan magnet sehingga jam dapat bergerak secara terus-menerus. Teknologi ini dapat disebut sebagai bentuk awal teknologi magnetik kinetik, sebuah kecanggihan luar biasa pada zamannya.
Citus bersejarah ini merupakan peninggalan leluhur P. Moehadi (alm.), yang pernah menjabat sebagai Camat Pacitan, Kebonagung, dan Punung. Hingga kini, jam tersebut masih terawat dan menjadi saksi bisu kecerdasan teknologi masyarakat masa lalu.
Keberadaan Jam Priyayi menjadi bukti bahwa pada masanya, leluhur Pacitan telah mengenal teknologi efisien dan berkelanjutan, jauh sebelum ketergantungan manusia modern terhadap energi listrik. Di abad ke-21 M, ketika fungsi jam telah tergantikan oleh telepon genggam dan perangkat elektronik yang boros energi, peninggalan ini justru menghadirkan refleksi tentang kearifan teknologi tradisional.
Semoga peninggalan ini menjadi pengingat bahwa peradaban masa lalu tidak kalah cerdas, dan bahwa sejarah Pacitan menyimpan banyak misteri yang layak digali, dirawat, dan diwariskan.