Arsitektur Pendopo Pacitan Awal Abad ke-20: Ruang Terbuka Pusat Pemerintahan dan Budaya

Pendopo Pacitan Awal Abad 20 (Dok. Perpustakaan Leiden)

PACITAN TERKINI -  Pendopo Pacitan pada awal abad ke-20, sebuah ruang publik penting yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat pada masa kolonial Hindia Belanda.

Pendopo tampak sebagai bangunan terbuka tanpa dinding, dengan deretan tiang-tiang kayu besar yang menopang atap tinggi berbentuk limasan. Struktur terbuka ini mencerminkan arsitektur Jawa tradisional yang menekankan sirkulasi udara, keterbukaan, serta fungsi pendopo sebagai ruang pertemuan umum. Lantai pendopo terlihat luas dan bersih, kemungkinan masih berupa ubin atau permukaan keras sederhana, mencerminkan fungsi resminya sebagai tempat acara penting.

Di bagian tengah pendopo tampak pementasan Wayang Beber, salah satu kesenian tradisi tua yang memiliki akar kuat di Pacitan. Dalang dan para pengrawit duduk bersila di lantai, mengenakan busana tradisional Jawa. Wayang Beber dibentangkan pada lembaran kain atau kertas bergambar adegan cerita, disangga secara sederhana di hadapan dalang. Kehadiran alat musik, perlengkapan ritual, serta penataan yang tertib menunjukkan bahwa pendopo juga menjadi ruang pelestarian budaya dan sastra lisan Jawa.

Secara visual, foto ini menegaskan bahwa Pendopo Pacitan awal abad ke-20 bukan hanya pusat administrasi, tetapi juga ruang budaya, pendidikan moral, dan komunikasi sosial. Di sinilah nilai-nilai tradisi, kekuasaan lokal, dan pengaruh kolonial berkelindan. Pendopo menjadi saksi bagaimana kebudayaan lokal tetap hidup dan dipertunjukkan secara terbuka di tengah perubahan zaman dan tekanan kolonial.

Pendopo Pacitan pada masa itu dengan demikian dapat dipahami sebagai jantung kehidupan masyarakat, tempat bertemunya rakyat, elite lokal, seni tradisi, dan simbol kewibawaan pemerintahan.

Struktur bangunan Pendopo Pacitan pada awal abad ke-20 mencerminkan arsitektur pendopo Jawa klasik yang fungsional, terbuka, dan sarat makna simbolik.

  1. Denah Terbuka (Tanpa Dinding)
    Pendopo dirancang tanpa dinding permanen. Ruang sepenuhnya terbuka dari semua sisi, menandakan fungsi pendopo sebagai tempat pertemuan umum, musyawarah, dan kegiatan budaya. Keterbukaan ini juga memungkinkan sirkulasi udara alami yang optimal, sesuai dengan iklim tropis Pacitan.

  2. Sistem Tiang (Saka)
    Bangunan ditopang oleh deretan tiang kayu besar yang tersusun simetris. Tiang-tiang ini berfungsi sebagai struktur utama penyangga atap. Jumlah dan susunannya mencerminkan keteraturan serta hirarki ruang, sekaligus menunjukkan kewibawaan bangunan pendopo sebagai pusat pemerintahan lokal.

  3. Atap Tinggi Bertipe Limasan
    Atap pendopo berbentuk limasan dengan kemiringan cukup curam. Bentuk ini memungkinkan air hujan cepat mengalir serta menciptakan ruang udara di bagian atas untuk menurunkan suhu di dalam bangunan. Atap yang tinggi juga memberi kesan agung dan lapang.

  4. Konstruksi Kayu Tradisional
    Material utama bangunan adalah kayu, baik pada tiang, balok, maupun rangka atap. Sambungan struktur umumnya menggunakan sistem pasak dan ikatan tradisional, bukan paku besi, sehingga bangunan memiliki fleksibilitas dan ketahanan terhadap perubahan cuaca.

  5. Lantai Luas dan Rata
    Lantai pendopo tampak luas dan datar, dirancang untuk menampung banyak orang dan berbagai aktivitas. Pada awal abad ke-20, lantai kemungkinan berupa ubin sederhana atau permukaan keras yang mudah dibersihkan, mendukung fungsi resmi dan seremonial.

  6. Elemen Tambahan Penunjang
    Di beberapa bagian terlihat ruang atau panggung kecil yang sedikit lebih tinggi, berfungsi sebagai tempat duduk pejabat, dalang, atau tokoh penting dalam acara tertentu. Penataan ini menunjukkan adanya stratifikasi fungsi dalam ruang pendopo meskipun bersifat terbuka.

Secara keseluruhan, struktur Pendopo Pacitan awal abad ke-20 menampilkan perpaduan kekuatan teknis dan filosofi Jawa, di mana bangunan tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga merepresentasikan nilai keterbukaan, kewibawaan, dan harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.



Lebih baru Lebih lama