PACITAN TERKINI - Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri.
Di tengah denyut sejarah Pacitan pada abad ke-18 hingga ke-19 Masehi, tepat pada masa kolonial Belanda, berkembang tradisi penggunaan peralatan rumah tangga yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat nilai estetika dan filosofi. Salah satu artefak budaya tersebut adalah Lepek Tutup Gelas Priyayi, sebuah alat minum yang digunakan oleh kalangan priyayi atau golongan menengah ke atas di Kabupaten Pacitan ketika menjamu tamu kehormatan dari luar lingkungan sosial mereka.
Lepek tutup gelas ini berfungsi sebagai tempat meletakkan gelas minum beserta penutupnya. Dibuat dari bahan dasar logam seng, artefak ini berbentuk bundar dengan diameter sekitar 5 hingga 10 sentimeter. Pada masanya, benda ini tergolong unik dan bernilai tinggi, karena selain memanfaatkan teknologi pengolahan logam yang sudah maju, permukaannya dihiasi lukisan tangan dengan komposisi warna dan simbol yang kaya makna.
Hiasan utama pada lepek berupa motif gerigi penggilingan yang berputar, dilukis dengan warna merah, serta putik dan kelopak bunga melati berwarna biru yang tersusun dalam pola lingkaran saling terhubung. Keseluruhan motif tersebut membentuk satu kesatuan estetika yang indah sekaligus menyimpan pesan filosofis mendalam dari para leluhur bumi Jawa.
Secara maknawi, lingkaran gerigi yang berputar melambangkan siklus hidup dan kehidupan—sebuah perjalanan tak terputus yang merupakan takdir Ilahi. Titik pusat berwarna hitam pada poros putaran dimaknai sebagai simbol kehadiran Allah SWT, pusat dari segala gerak dan kehidupan. Sementara itu, perpaduan warna merah, hitam, putih, dan biru mencerminkan dinamika laku manusia: kehidupan yang senantiasa berubah, penuh warna, ujian, dan proses pendewasaan batin.
Adapun motif bunga melati berwarna biru melambangkan kesucian niat dan tujuan hidup manusia, yakni meraih kemuliaan dan pada akhirnya kembali menuju hakikat keabadian, menghadap Gusti Allah SWT. Filosofi ini menunjukkan bahwa para leluhur Jawa tidak hanya unggul dalam keterampilan teknologis dan seni rupa, tetapi juga memiliki pemahaman ketauhidan yang mendalam, yang diwujudkan secara simbolik dalam benda-benda keseharian.
Keberadaan Lepek Tutup Gelas Priyayi menjadi bukti bahwa pada masanya, masyarakat Pacitan telah mencapai tingkat kemajuan teknologi pengolahan logam serta seni lukis dekoratif yang tinggi, dengan nilai spiritual yang kuat. Kini, artefak semacam ini perlahan tergeser oleh peralatan modern berbahan plastik dan kaca yang cenderung fungsional semata, namun miskin nilai estetika dan filosofi.
Melalui penelusuran artefak ini, kita diajak untuk kembali membaca jejak kearifan leluhur Pacitan—bahwa dalam benda sederhana sekalipun, tersimpan ajaran tentang hidup, harmoni, dan ketundukan manusia kepada Sang Pencipta.
Mugi Gusti Allah SWT paring berkah dhumateng kita sedaya, kulawarga, lan para penerus Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW, saha bumi lan langit sak isine. Aamiin.
Penulis: Amat Taufan - Kadis Perpustakaan dan Karsipan Pacitan