Dalam Teduh Gua Tabuhan: Potret Perempuan Pacitan Masa Kolonial

Kebaya warna putih polos dengan jahitan sederhana

PACITAN TERKINI - Dalam lanskap alam Gua Tabuhan Pacitan pada awal abad ke-20, sosok wanita Pacitan tampil dengan kesederhanaan yang anggun, mencerminkan perpaduan antara nilai tradisi Jawa, kondisi sosial, serta lingkungan alam sekitarnya. Gua Tabuhan—dengan dinding batu kapur menjulang, lembap, dan bertekstur alami—menjadi latar yang kuat bagi potret kehidupan masyarakat Pacitan masa itu.

Para wanita Pacitan umumnya mengenakan kebaya sederhana berwarna terang, dominan putih atau krem, yang mencerminkan kesucian, kesahajaan, sekaligus pengaruh adat Jawa pesisir selatan. Kebaya tersebut berlengan panjang, tanpa banyak hiasan, menutup tubuh secara sopan dan fungsional, sesuai dengan nilai adab perempuan Jawa pada masa kolonial.

Sebagai bawahan, mereka mengenakan jarik atau kain batik dengan motif klasik yang tidak terlalu rumit. Motif-motif ini biasanya bernuansa geometris atau flora sederhana, mencerminkan status sosial menengah—bukan bangsawan keraton, tetapi juga bukan buruh kasar. Kain dililit rapi hingga mata kaki, memungkinkan mobilitas namun tetap menjaga kesantunan.

 
Goa Tabuhan sebagai Tempat Wisata Kaum Priyayi Pacitan awal abad 20

Rambut para wanita ditata sanggul sederhana (konde), ditarik ke belakang tanpa ornamen berlebihan. Pada beberapa kesempatan khusus, sanggul dihiasi bunga kecil atau sisir sederhana. Penampilan wajah tampak alami, tanpa riasan mencolok, menegaskan nilai “ayu tanpa polesan” yang dijunjung perempuan Jawa masa itu.

Aksesori hampir tidak terlihat—mungkin hanya anting kecil atau bros kebaya—menandakan fungsi utama busana sebagai penutup tubuh dan simbol etika, bukan sarana pamer status. Alas kaki sering kali berupa sandal sederhana, bahkan tak jarang bertelanjang kaki, terutama ketika berada di area alam seperti Gua Tabuhan.

Dalam latar Gua Tabuhan, keberadaan wanita Pacitan ini memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Gua bukan sekadar ruang alam, melainkan juga ruang sosial, spiritual, dan kultural. Penampilan mereka menyatu dengan lingkungan batu kapur yang megah, menghadirkan kesan tenang, kuat, dan membumi—citra perempuan Pacitan yang tangguh, bersahaja, dan berakar kuat pada tradisi.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.

Lebih baru Lebih lama