PACITAN TERKINI – Ada fase dalam kehidupan ketika manusia memilih berhenti sejenak. Bukan lantaran raga yang lelah, melainkan karena batin yang tersentuh kesadaran. Pada momen itu, langkah diperlambat, napas ditarik dalam, lalu pandangan terangkat menatap langit. Bukan untuk meminta jawaban dari sesama, tetapi untuk menyadari satu hakikat paling mendasar: ke mana pun manusia melangkah, muara akhirnya hanyalah kembali kepada Allah SWT.
Kesadaran semacam ini oleh sebagian kalangan dimaknai sebagai sasmito langit—isyarat lembut dari semesta, penanda halus agar manusia mau menengok ulang makna hidup dengan kejernihan dan kejujuran batin.
Sepanjang perjalanan hidup, manusia kerap menambatkan harapan pada makhluk. Pada sesama manusia, pada jabatan, profesi, status sosial, serta gemuruh pengakuan dunia. Semua itu tampak rasional, bahkan menjanjikan kebahagiaan. Namun waktu, dengan caranya yang tenang namun tegas, perlahan mengajarkan satu kebenaran: makhluk, seakrab dan secinta apa pun, tetap memiliki keterbatasan.
Dari sanalah kekecewaan bersemi. Luka batin pun tak terelakkan. Kegelisahan hadir tanpa permisi. Bukan karena makhluk berniat menyakiti, melainkan karena pada hakikatnya, kesempurnaan bukanlah milik makhluk.
Kesadaran ini bukan ajakan untuk menjauh dari sesama atau menarik diri dari kehidupan dunia. Justru sebaliknya, ia merupakan panggilan untuk merapikan kembali sandaran hidup. Sebab menggantungkan seluruh harapan kepada makhluk akan selalu rapuh, sementara bersandar kepada Sang Pencipta menghadirkan ketenteraman yang tak mudah goyah oleh keadaan.
Dalam bingkai sasmito langit, setiap profesi—apa pun bentuk dan kedudukannya—bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah sarana pengabdian. Ketika niat ditata lurus semata-mata karena Allah SWT, maka bekerja tidak lagi berorientasi pada pujian dan pengakuan, melainkan menjelma sebagai ibadah yang sunyi namun sarat makna. Di titik inilah manusia memahami bahwa nilai hidup bukan ditentukan oleh siapa yang menyaksikan, melainkan oleh siapa yang menerima niatnya.
Janji Allah SWT selalu hadir tepat pada waktunya. Tidak selalu cepat, tidak selalu sesuai dengan kehendak manusia, tetapi senantiasa pas menurut hikmah-Nya. Keberhasilan dan kegagalan, suka dan duka, pada hakikatnya bukan tujuan akhir, melainkan warna-warni yang memperkaya perjalanan panjang bernama kehidupan.
Ada masa ketika manusia terjatuh dan merasa tak berdaya. Ada pula saat ia berdiri tegak dengan dada lapang. Ada waktu tertawa lepas, ada pula saat menangis dalam senyap. Semua itu bukan untuk disesali atau dibanggakan berlebihan, melainkan untuk disyukuri sebagai proses pendewasaan jiwa.
Sasmito langit mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menghindari luka, melainkan memahami maknanya. Bukan tentang menolak kegagalan, tetapi memetik hikmah darinya. Dan bukan tentang mengejar dunia, melainkan menempatkan dunia di genggaman tangan—bukan di relung hati.
Kesadaran inilah yang kemudian menjelma menjadi energi sunyi untuk terus berkarya, termasuk dalam ikhtiar literasi dan pemajuan kebudayaan. Dengan penuh rasa syukur, Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, kejernihan berpikir, kemudahan, kelancaran, serta keberkahan. Dari sanalah lahir dan menyebar buku Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri Jilid I–III, sebagai ikhtiar sederhana menjaga ingatan kolektif dan jati diri budaya.
Bersama para kolega—yang menulis tanpa pamrih meski kerap diterpa cibiran dan penyingkiran—kerja literasi terus dilakoni sebagai wujud pengabdian kepada negeri. Bukan demi nama atau popularitas, melainkan untuk mengamankan literasi objek pemajuan kebudayaan Pacitan agar tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Harapannya, dalam waktu dekat dapat terbit Ensiklopedia Situs Pacitan Kota Misteri Jilid IV yang memuat inventarisasi dan kajian objek pemajuan kebudayaan Pacitan, upaya pelestarian warisan budaya lokal, Hari Jadi Desa Sirnoboyo sebagai jejak sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan, serta berbagai luaran Hak Kekayaan Intelektual lainnya. Kehadiran karya-karya tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pendokumentasian, pelestarian, dan pewarisan nilai-nilai budaya Pacitan lintas generasi.
Pada akhirnya, seluruh ikhtiar intelektual dan kebudayaan ini bermuara pada satu kesadaran hakiki: manusia hanyalah pengelana dalam bentangan sejarah yang panjang. Ketika sandaran-sandaran semu dilepaskan dan seluruh perjalanan hidup kembali digantungkan kepada Allah SWT, di situlah ketenangan sejati bersemi. Sebab hidup, dengan segala dinamika dan pasang surutnya, pada hakikatnya adalah perjalanan pulang menuju Sang Pemilik Kehidupan.
Alhamdulillāh.