Kolosal Thethek Melek di Sukoharjo Pacitan, 500 Peserta Satukan Seni, Tradisi, dan Pesan Ekologis

Kolosal Thethek Melek di Sukoharjo Pacitan, 500 Peserta Satukan Seni, Tradisi, dan Pesan Ekologis

 

PACITAN TERKINI – Pertunjukan seni kolosal Thethek Melek berhasil memukau penonton di Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Minggu (18/10/2026). Melibatkan lebih dari 500 peserta, pertunjukan ini menghadirkan perpaduan seni pertunjukan, ritual tradisi, dan pesan pelestarian lingkungan melalui gelaran Eco-Dramaturgi Entas-Entas.

Suasana sore di Dusun Nitikan mendadak berubah ketika sosok pagebluk digambarkan datang dari kawasan hutan desa. Dalam narasi pertunjukan, kehadiran pagebluk menjadi ancaman yang harus dihadapi bersama oleh masyarakat.

Di bawah satu komando, ratusan warga serentak memukul alat bunyi berbahan bambu yang telah disiapkan. Suara pukulan menggema di tengah hamparan persawahan, menciptakan irama yang mengiringi adegan pengusiran pagebluk. Bunyi yang bertalu-talu tersebut bukan sekadar unsur artistik, tetapi menjadi simbol kekuatan kolektif masyarakat dalam menghadapi ancaman yang mengganggu keseimbangan kehidupan.

Gerak para peserta, suara bambu, dan lanskap pedesaan berpadu menjadi tontonan kolosal yang sarat makna. Tradisi lokal dihadirkan kembali sebagai seni pertunjukan yang mampu menyampaikan pesan sosial dan ekologis kepada masyarakat masa kini.

Thethek Melek, Simbol Kekuatan Kolektif Masyarakat

Thethek Melek menjadi salah satu unsur penting dalam rangkaian pertunjukan Eco-Dramaturgi Entas-Entas. Melalui bunyi bambu yang dimainkan secara serentak, masyarakat menghadirkan gambaran kebersamaan, kewaspadaan, dan semangat gotong royong dalam menghadapi ancaman pagebluk.

Dalam konteks dramaturgi, pertunjukan ini tidak hanya mengandalkan dialog atau gerak teatrikal. Alam pedesaan, persawahan, suara bambu, serta keterlibatan ratusan warga menjadi bagian dari panggung yang hidup.

Pendekatan tersebut mempertemukan seni dengan ruang ekologis tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Persawahan bukan sekadar latar pertunjukan, melainkan ruang yang mengingatkan masyarakat pada hubungan erat antara manusia, alam, dan keberlanjutan kehidupan.

Keterlibatan lebih dari 500 peserta juga memperlihatkan besarnya potensi partisipasi masyarakat dalam menghidupkan kembali tradisi lokal melalui pertunjukan seni kolosal.

Dari Ngumbah Gerobag hingga Ritual Entas-Entas

Rangkaian kegiatan Eco-Dramaturgi Entas-Entas diawali dengan ritual ngumbah gerobag di Kali Bendung Sidoluhur. Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan menuju rangkaian pertunjukan kolosal Thethek Melek.

Puncak pertunjukan berlangsung melalui adegan pengusiran pagebluk yang diperkuat oleh bunyi bambu dan gerak serentak para peserta. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan prosesi ritual Entas-Entas.

Susunan kegiatan tersebut menghadirkan alur pertunjukan yang bergerak dari ritual, arak-arakan, aksi teatrikal, hingga prosesi penutup. Setiap bagian menjadi elemen yang saling terhubung dalam membangun pengalaman artistik berbasis tradisi masyarakat setempat.

Melalui pendekatan eco-dramaturgi, seni pertunjukan ditempatkan dalam hubungan yang lebih luas dengan lingkungan, ingatan kolektif, serta kearifan lokal masyarakat agraris.

Merawat Kearifan Lokal melalui Seni dan Ekologi

Kolaborasi dalam Eco-Dramaturgi Entas-Entas mempertemukan dua kearifan lokal agraris yang memiliki dimensi sosial dan ekologis. Keduanya dihadirkan dalam satu rangkaian pertunjukan yang menempatkan tradisi sebagai sumber inspirasi penciptaan seni sekaligus sarana refleksi terhadap kehidupan masyarakat.

Kisah pagebluk yang datang dari hutan desa dapat dibaca sebagai pengingat tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam kehidupan masyarakat agraris, hubungan antara manusia, hutan, air, tanah, dan persawahan merupakan bagian penting dari keberlangsungan hidup.

Karena itu, pertunjukan Thethek Melek tidak hanya menawarkan kemegahan visual dan bunyi, tetapi juga membuka ruang untuk memahami kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lokal.

Melalui keterlibatan ratusan warga, seni menjadi medium yang mempertemukan generasi, memperkuat identitas budaya, dan menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pertunjukan kolosal di Dusun Nitikan tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat terus hidup melalui kreativitas dan keterlibatan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, tradisi tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat diolah menjadi pertunjukan yang relevan dengan persoalan sosial dan ekologis masa kini.

Lebih baru Lebih lama