| Marine Luchtvaart Dienst Indië |
PACITAN TERKINI - Di balik citranya sebagai kota pesisir yang tenang di selatan Jawa, Pacitan menyimpan jejak sejarah maritim yang kerap luput dari ingatan. Sebuah foto arsip hitam-putih memperlihatkan kapal besar bersandar di perairan Pacitan, dengan latar dermaga sederhana, deretan pepohonan pantai, serta sebuah pesawat amfibi yang mengapung tenang di permukaan laut. Gambar ini menjadi bukti visual bahwa Pacitan pernah memainkan peran strategis sebagai tempat labuh dan persinggahan kapal dagang Belanda.
Pada paruh awal abad ke-20, Pacitan bukanlah pelabuhan besar seperti Surabaya atau Semarang. Namun letaknya yang menghadap langsung Samudra Hindia menjadikannya titik singgah penting di jalur pelayaran selatan Jawa. Kapal-kapal dagang Belanda memanfaatkan perairan Pacitan sebagai tempat bersandar sementara, baik untuk keperluan logistik, bongkar muat terbatas, maupun perlindungan alami dari gelombang besar laut lepas.
Dermaga Pacitan pada masa itu masih bersifat sederhana, namun cukup fungsional untuk melayani kapal uap dan kapal kargo berukuran menengah. Kehadiran kapal dagang Belanda menunjukkan bahwa Pacitan terhubung dalam jaringan ekonomi kolonial, terutama dalam distribusi hasil bumi dari wilayah pedalaman seperti kayu, hasil pertanian, dan komoditas lokal lainnya.
Menariknya, dalam foto tersebut tampak pula sebuah pesawat amfibi—diduga PBY Catalina—yang lazim digunakan pada era kolonial akhir dan masa Perang Dunia II. Keberadaan pesawat ini menandakan bahwa perairan Pacitan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai strategis dalam pengawasan laut dan mobilitas kolonial. Pacitan menjadi ruang temu antara perdagangan, transportasi, dan kepentingan geopolitik.
Bagi masyarakat Pacitan, aktivitas kapal dagang Belanda membawa perubahan sosial tersendiri. Pelabuhan menjadi titik interaksi antara penduduk lokal dengan dunia luar—tempat bertemunya bahasa, budaya, dan sistem ekonomi yang berbeda. Pacitan pun perlahan tumbuh sebagai wilayah administratif yang penting, ditopang oleh jalur laut yang meski sunyi, namun strategis.
Kini, jejak pelabuhan dagang kolonial itu sebagian besar telah menghilang, tertutup oleh perubahan zaman dan orientasi pembangunan. Namun foto arsip ini mengingatkan bahwa Pacitan pernah menjadi simpul kecil dalam pusaran besar perdagangan maritim Hindia Belanda—sebuah pelabuhan sunyi yang pernah menyambut kapal-kapal dari negeri jauh.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd