PACITAN TERKINI - Bismillāh. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri.
Pada masa lalu, khususnya sekitar abad ke-18 hingga ke-19 Masehi, dikenal sebuah bentuk tempat tidur yang digunakan oleh kalangan priyayi, baik dari golongan pribumi menengah ke atas maupun kalangan entener pada masa kolonial Belanda. Tempat tidur tersebut lazim disebut “Ranjang Priyayi.”
Berbeda dengan masyarakat kebanyakan yang masih menggunakan ranjang berbahan kayu, golongan priyayi pada masa itu telah beralih menggunakan ranjang berbahan dasar besi. Peralihan material ini menandai adanya perkembangan teknologi dan selera estetika yang lebih maju pada zamannya. Ranjang priyayi umumnya memiliki ukuran panjang sekitar 1,8 hingga 2 meter dan lebar kurang lebih 1,5 meter, dengan sistem rangka yang disambung menggunakan baut, mur, dan drat, menunjukkan tingkat keterampilan pertukangan logam yang sudah cukup tinggi.
Keunikan lain dari ranjang ini adalah desainnya yang dilengkapi dengan rangka khusus untuk memasang selambu, yakni kain pelindung yang berfungsi sebagai penghalang dari serangan nyamuk dan serangga. Kehadiran selambu tidak hanya mencerminkan perhatian terhadap kesehatan dan kenyamanan, tetapi juga memperlihatkan gaya hidup priyayi yang tertata dan berkelas.
Pada masa kini, ranjang priyayi telah menjadi situs budaya yang langka, dengan jumlah yang sangat terbatas. Keberadaannya menjadi bukti faktual bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki teknologi dan pemikiran maju dalam pengembangan perabot rumah tangga. Dari bentuk yang tampak sederhana inilah kemudian berkembang berbagai desain tempat tidur modern berbahan besi yang kita kenal hingga sekarang.
Secara filosofis, ranjang priyayi mengajarkan sebuah nilai mendalam bahwa kenyamanan istirahat sejati berawal dari kesederhanaan yang terus berkembang menuju kemajuan. Ia bukan sekadar benda pakai, melainkan warisan budaya yang merekam perjalanan peradaban, teknologi, dan cara hidup masyarakat masa lalu.
Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun dhateng kawula, kulawarga, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW, saha bumi lan langit sak isine.