Pambiwara Panggih Manten Pacitan: Menjaga Sakralitas, Menuntut Penghargaan

Paguyuban Pametri Budaya Panggih Manten Jawa Pacitan - SKU di Karya Dharma, Jum'at (2/1/26).


PACITAN TERKINI - Sebuah peristiwa istimewa berlangsung di Gedung Karya Dharma Kabupaten Pacitan, Jumat 2 Desember 2026. Bukan sekadar perhelatan seremoni, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus seruan nurani bagi para pelaku budaya Jawa, khususnya MC atau Pambiwara Panggih Manten.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Paguyuban Pametri Budaya Panggih Manten Jawa Kabupaten Pacitan, Sekar Kridha Utama (SKU)—sebuah rumah besar yang menaungi para pelaku budaya panggih manten, mulai dari MC, juru rias, MUA, Wedding Organizer (WO), hingga Event Organizer (EO).

MC: Pengendali Acara, Penjaga Budaya

Ketua Paguyuban Sekar Kridha Utama, Bambang Pidera, menegaskan bahwa peran MC dalam sebuah perhelatan adat bukan sekadar pembaca susunan acara.

“MC atau Pambiwara Manten adalah pengendali acara dari awal hingga akhir. Mereka menyiapkan diri secara matang, bekerja penuh perhitungan, dan menjaga alur sakral sebuah prosesi adat. Lebih dari itu, MC adalah penjaga eksistensi budaya Pacitan,” ujarnya.

Seorang MC Panggih Manten dituntut memiliki bekal yang tidak sederhana:
  • Gendhung (ilmu pengetahuan),
  • Gendhing (pemahaman seni), dan
  • Gendheng (kepiawaian mencipta suasana hangat, hidup, bahkan humoris/ ngedan).

Ironi Kesejahteraan Pelaku Budaya

Namun di balik peran vital tersebut, tersimpan ironi. Menurut Bambang Pidera, tarif atau fee MC Panggih Manten di Pacitan masih jauh tertinggal dibandingkan daerah lain. Profesi ini kerap dipandang sebelah mata, baik dari sisi profesionalitas maupun kesejahteraan.

Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya minat generasi muda untuk menekuni profesi MC adat di Pacitan. Padahal, tanpa regenerasi, kesinambungan budaya akan berada di titik rawan.

Karena itu, SKU mengajak seluruh unsur pendukung perhelatan pernikahan adat untuk berserikat dan membangun ekosistem yang sehat.

“Mari bangun ekosistem yang bersifat simbiosis mutualisme—saling menguatkan dan saling menguntungkan antara MC, perias, MUA, WO, EO, dan seluruh pelaku budaya,” tegasnya.

Dukungan Pemerintah Daerah

Kegiatan ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Pacitan. Hadir Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Munirul Ichwan, S.S.TP., M.Si.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi serta menegaskan pentingnya menjaga harkat dan jiwa profesi MC.

“MC adalah pengendali utama sebuah acara. Sudah seharusnya ada peningkatan penghargaan, termasuk dari sisi kesejahteraan, dengan asas keterbukaan dan kejujuran antarpelaku usaha pernikahan,” tutur Munirul Ichwan, yang akrab disapa Pak Irul.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, S.S.TP. Ia mengibaratkan sebuah perhelatan adat sebagai harmoni nada-nada indah yang hanya dapat terwujud bila seluruh unsur saling mendukung.

Ia juga membenarkan bahwa minat menjadi MC di Pacitan masih rendah, salah satunya karena belum adanya kepastian nilai ekonomi yang menjanjikan. Meski demikian, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus hadir dalam upaya pelestarian dan penghormatan budaya lokal.

Simbol Harmoni dan Komitmen Bersama

Perhelatan semakin bermakna dengan kehadiran sepasang pengantin Jawa berbusana Paes Ageng Gagrak Yogyakarta, hasil kolaborasi harmonis antara DPC KATALIA Pacitan dan HARPI MELATI.

Momentum ini menjadi tonggak penting dengan lahirnya SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Sekar Kridha Utama, KATALIA, dan HARPI MELATI, sebagai komitmen kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan para pelaku budaya di Kabupaten Pacitan.

Sejalan dengan harapan pemerintah daerah: masyarakat Pacitan yang berbudaya, bahagia, dan sejahtera.

Kontributor: Bambang Pidera - Ketua Paguyuban Sekar Kridha Utama Pacitan

Lebih baru Lebih lama