Dari Gugah Sahur ke Panggung Budaya: Rontek, Denyut Bunyi Ikonik Pacitan


 

PACITAN TERKINI - Setiap kali bulan Ramadan tiba, malam-malam di Pacitan tak pernah benar-benar sunyi. Dari gang-gang sempit hingga jalan desa, bunyi khas “thek-thek-thor” menggema, membangunkan warga untuk bersiap sahur. Bunyi itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan denyut hidup sebuah tradisi bernama Rontek—musik rakyat yang lahir dari kesederhanaan dan bertahan di tengah arus perubahan zaman.

Jejak awal Rontek tak dapat dipastikan secara kronologis. Namun ingatan kolektif masyarakat menyebut geliat kesenian rakyat Pacitan mulai terasa kuat sekitar tahun 1960-an, seiring maraknya pertunjukan ketoprak dan wayang orang pada masa kepemimpinan Bupati Tedjo Sumarto. Keterbatasan akses terhadap gamelan tak mematikan kreativitas warga. Sebaliknya, dari keterbatasan itulah lahir inovasi bunyi dari benda-benda sekitar.

Buku Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan merupakan dokumentasi penting yang merekam perjalanan sejarah dan dinamika seni musik Rontek sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pacitan. Ditulis oleh Indartato, Daryono, Bakti Sutopo, Agoes Hendriyanto, dan Edi Sukarni, buku ini mengulas asal-usul Rontek yang berakar dari tradisi gugah sahur di bulan Ramadan, kemudian berkembang melalui kreativitas masyarakat menjadi seni pertunjukan yang memadukan alat musik tradisional seperti thethek dan gamelan dengan unsur musik modern.

Diterbitkan oleh CV. Nata Karya pada tahun 2021, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai arsip pengetahuan, tetapi juga sebagai rujukan bagi pelajar, peneliti, seniman, dan pemerhati budaya. Kehadirannya mendukung upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah, sekaligus menjadi media edukasi lintas generasi agar seni Rontek tetap lestari, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan terus tumbuh sebagai kebanggaan masyarakat Pacitan.

Bambu kemudian menjadi medium utama. Dari tangan-tangan warga, terutama remaja masjid, tercipta alat musik sederhana bernama thethek—disebut demikian karena suara “tek… tek… tek…” yang dihasilkannya. Terbuat dari bambu ori dan betung yang mudah dijumpai di Pacitan, thethek menjadi simbol gotong royong. Sore hari menjelang berbuka dipakai untuk latihan, malamnya mereka berkeliling kampung, menyemai irama sahur yang meriah namun tetap membumi.

Nama Rontek sendiri diyakini berasal dari gabungan kata ronda dan thek-thek. Dari aktivitas ronda malam yang diiringi bunyi bambu itulah tradisi ini tumbuh. Seiring waktu, Rontek berkembang bukan hanya dalam bunyi, tetapi juga dalam bentuk. Kendang, kenong, gong, hingga seruling ditambahkan, memperkaya harmoni tanpa menghilangkan ruh kebersamaan yang menjadi napas utamanya.

Kini, Rontek telah melampaui fungsi awalnya sebagai musik gugah sahur. Ia menjelma menjadi seni pertunjukan yang dinanti masyarakat, bahkan dipanggungkan dalam Festival Rontek Pacitan yang rutin digelar pemerintah daerah. Di panggung festival, Rontek tampil dengan aransemen kreatif, kostum atraktif, dan koreografi yang memikat—menjadikannya bukan sekadar tradisi, melainkan identitas budaya yang hidup dan berdaya saing.

Meski demikian, modernisasi membawa tantangan tersendiri. Inovasi memang memperkaya, tetapi juga menyimpan risiko pengaburan nilai dan orisinalitas. Karena itu, upaya pendokumentasian menjadi sangat penting. Buku Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan hadir sebagai ikhtiar merekam perjalanan Rontek secara runtut—dari tradisi gugah sahur hingga seni pertunjukan kontemporer.

Buku ini bukan hanya arsip sejarah, tetapi juga rujukan bagi pelestari dan pengembang seni budaya. Ia mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam melestarikan sekaligus memajukan kebudayaan daerah, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Di dalamnya, Rontek diposisikan sebagai wujud cipta, rasa, dan karsa masyarakat Pacitan yang terejawantah dalam irama, melodi, dan harmoni.

Bagi generasi muda, buku ini menjadi pintu masuk untuk mengenal Rontek lebih dari sekadar tontonan. Ia mengajak pembaca memahami nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan identitas lokal yang terkandung di balik setiap denting bambu. Didistribusikan kepada pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum, buku ini diharapkan menumbuhkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk merawat warisan budaya.

Di tengah malam Ramadan, ketika sebagian dunia masih terlelap, bunyi thek-thek itu akan terus berdetak—menjadi pengingat bahwa kebudayaan hidup karena dirawat, dikisahkan, dan diwariskan. Dari Pacitan, Rontek mengirimkan harmoni sederhana untuk Indonesia.

Sumber:  Indartato dkk. (2021). Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan. Nata Karya: Ponorogo.

Lebih baru Lebih lama