Ramadhan Sebagai Wacana Sosial dalam Manuskrip Kuno

Ramadhan Sebagai Wacana Sosial dalam Manuskrip Kuno

SURAKARTA, 6 Maret 2026 – Ramadhan tidak hanya dipahami sebagai praktik ibadah spiritual, tetapi juga sebagai wacana sosial yang tercermin dalam berbagai manuskrip kuno Nusantara. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi kebudayaan yang disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 Surakarta, yang mengangkat tema kajian manuskrip dan tradisi intelektual Islam di Nusantara.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.Hum., dosen Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Ketua Manuskrip Nusantara Society (MANASSA). Turut hadir pula mahasiswa filologi Rezty Putri Ariana Gunarso dan Lutfia Hardiantari, dengan Roy Rohim sebagai host acara.

Dalam pemaparannya, Dr. Asep menyoroti kondisi manuskrip kuno yang semakin terabaikan di tengah perkembangan zaman. Selain jumlah peminat yang semakin berkurang, kerusakan fisik naskah akibat usia kertas yang menua juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan khazanah intelektual masa lalu.

“Jika manuskrip ini tidak dirawat dan dikaji, kita bisa kehilangan pijakan keilmuan yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno tersebut,” ujarnya.

Beberapa naskah klasik yang memuat ajaran tentang puasa turut dibahas dalam diskusi ini. Salah satunya adalah Serat Centini, karya sastra Jawa yang menjelaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa serta menjaga hati dari niat buruk. Pemahaman ini memiliki akar pemikiran dari ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali, yang menunjukkan tingginya tingkat literasi dan interaksi intelektual masyarakat Nusantara pada masa lampau.

Selain itu, naskah Bustanus Salatin atau Tajussalatin yang ditulis pada abad ke-16 juga memberikan perspektif menarik tentang Ramadhan. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa puasa tidak hanya bersifat individual, tetapi juga menjadi momentum sosial untuk memperbanyak sedekah dan memperkuat kepedulian terhadap sesama. Tradisi berbuka puasa bersama bahkan digambarkan sebagai latihan empati sosial sekaligus pengingat pentingnya menunaikan zakat, tidak hanya zakat fitrah tetapi juga zakat mal.

Diskusi juga menyinggung catatan sejarah tentang Raja Balaputradewa dari Sriwijaya yang pernah meminta ulama dari Mekkah meskipun kerajaannya beragama Buddha. Peristiwa ini menunjukkan adanya tradisi toleransi dan keterbukaan intelektual dalam peradaban Nusantara pada masa lampau.

Menurut Dr. Asep, perkembangan teknologi modern turut membuka peluang baru dalam pelestarian manuskrip. Salah satunya melalui teknik deasidifikasi kertas, metode konservasi yang mulai berkembang pada awal tahun 2000-an untuk memperlambat kerusakan naskah kuno. Selain itu, digitalisasi manuskrip juga memungkinkan masyarakat luas mengakses dokumen sejarah melalui berbagai perpustakaan dunia seperti Leiden Library dan British Library.

Dalam manuskrip Tajussalatin misalnya disebutkan, “setidaknya orang mukmin menahan lidah dari perbuatan yang sia-sia.” Sementara dalam Serat Centini dijelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa orang awam yang menahan lapar dan haus, puasa yang menahan diri dari dosa, serta puasa tingkat tertinggi yang menjaga hati sepenuhnya untuk Allah.

Sesi tanya jawab antara narasumber dan masyarakat turut memperkaya diskusi. Salah satu topik yang dibahas adalah asal-usul istilah puasa dalam bahasa Jawa. Kata “puasa” disebut berasal dari bahasa Sanskerta upa dan wasa, sementara istilah “sembahyang” dipilih dalam tradisi Jawa karena dianggap lebih dekat dengan kosmologi budaya lokal dibandingkan istilah salat.

Dalam tradisi sastra Jawa-Islam, nilai-nilai ibadah sering disampaikan melalui metafora dan simbol. Manuskrip-manuskrip tersebut juga memuat pembahasan mengenai praktik sedekah, pengelolaan zakat, hingga etika sosial agar keseimbangan antara penerima dan pemberi zakat tetap terjaga tanpa menimbulkan ketergantungan.

Para mahasiswa filologi yang terlibat dalam kajian ini juga belajar melakukan digitalisasi naskah agar warisan intelektual tersebut dapat diakses oleh masyarakat luas. Upaya ini diharapkan mampu membuka kembali ruang pembelajaran terhadap khazanah budaya dan keilmuan Nusantara.

Ramadhan, sebagaimana tergambar dalam manuskrip-manuskrip kuno, tidak hanya dimaknai sebagai praktik menahan lapar dan haus. Ia juga menjadi ruang pembentukan etika sosial, pengendalian diri, serta penguatan solidaritas dalam masyarakat. Dalam kerangka budaya Jawa-Islam, ibadah tidak dipisahkan dari tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Bagi generasi muda yang menelaah manuskrip-manuskrip tersebut, Ramadhan menjadi pengingat bahwa ibadah adalah jalan menuju pembentukan manusia yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesadaran budaya. Melalui pembacaan kembali naskah-naskah kuno, Ramadhan tampil sebagai warisan nilai yang mempertemukan dimensi spiritual, sosial, dan intelektual dalam peradaban Nusantara.

Penulis:
Putri Aulia Nur Fauziah
Lutfia Hardiantari
Rezty Putri Ariana Gunarso
Tiara Putri Maharani

Lebih baru Lebih lama