Wayang Beber Pacitan: Pusaka Sakral, Tradisi Leluhur, dan Napas Folklor Jawa


PACITAN TERKINI - Kebudayaan di Jawa sangatlah beragam. Di setiap wilayah Jawa terdapat berbagai bentuk budaya yang memiliki karakteristik khas sesuai dengan tempatnya masing-masing. Ruang lingkup kebudayaan ini sangat luas, antara lain meliputi tayub, jamu-jamuan, cerita rakyat, lakon, tradisi, upacara adat, tembang, gendhing, busana, kepercayaan, arsitektur, dan lain sebagainya. Salah satu disiplin ilmu yang mengkaji kebudayaan tersebut dikenal dengan istilah folklor. Folklor berasal dari bahasa Inggris folk yang berarti rakyat dan lore yang berarti tradisi (Endraswara, 2006).

Menurut Brunvand yang dikutip Danandjaja (1986), folklor dibagi menjadi tiga bagian, yaitu folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor non-lisan. Jauhari (2018) menjelaskan bahwa folklor non-lisan terbagi menjadi dua, yakni folklor material seperti arsitektur rakyat, kerajinan tangan, busana, makanan dan minuman tradisional, serta jamu tradisional; dan folklor immaterial seperti bahasa isyarat dan laras gending. Tradisi Wayang Beber Pacitan termasuk dalam kategori folklor non-lisan karena fokus kajiannya terletak pada filosofi uborampe Wayang Beber Pacitan.

Upacara Wayang Beber Pacitan hingga kini masih dilestarikan secara turun-temurun oleh keturunannya di Pacitan. Upacara Wayang Beber dapat disebut sebagai tradisi karena, menurut pengertian tradisi dalam KBBI (Kemendikbudristek, 2019), tradisi adalah kebiasaan turun-temurun dari para leluhur yang masih dijalankan oleh masyarakat karena diyakini sebagai tata cara yang paling baik.

Tradisi juga dijalankan karena memiliki tujuan dan manfaat tertentu. Contoh manfaat dalam folklor sangat beragam. Dalam folklor non-lisan, misalnya, terdapat arsitektur rakyat, jamu-jamuan, dan pengobatan tradisional. Beragam manfaat tersebut hadir dalam aturan hidup masyarakat serta dalam tradisi-tradisi non-lisan. Salah satu contoh folklor non-lisan yang dikaji dalam kajian ini adalah tradisi Wayang Beber Pacitan.

Di Nusantara, khususnya di wilayah Jawa, masih banyak pusaka leluhur yang dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Usia pusaka-pusaka tersebut telah mencapai ratusan tahun. Merawat pusaka-pusaka peninggalan leluhur merupakan tanggung jawab bersama karena pusaka tersebut dipercaya masih menjaga kewibawaan dan kesakralan tanah Jawa, sehingga wilayah Jawa tidak mudah dirusak oleh niat-niat jahat. Masyarakat meyakini bahwa jika seluruh pusaka leluhur tersebut hilang dan tidak ada lagi yang merawatnya, maka berbagai bencana akan menimpa generasi penerusnya.

Salah satu pusaka yang hingga kini masih dirawat dengan baik dan dijadikan tradisi turun-temurun adalah Wayang Beber. Menurut Wisto Utomo, pemilik Wayang Beber Gunung Kidul, di dunia ini hanya terdapat dua Wayang Beber yang dianggap sebagai pusaka sakral dan masih hidup sebagai tradisi, yaitu Wayang Beber yang berada di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, dan Wayang Beber yang berada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Kedua Wayang Beber tersebut merupakan pusaka turun-temurun yang usianya telah mencapai lebih dari 300 tahun.

Bedasarkan candra sengkolo di gulungan 1 cerita empa "Gawe Srabi Jinamah Wong" artinya tahun saka 1614 tahun Saka atau 1692 M.  Candro sengkolo diyakini tahun pembuatan dari ritus Wayang beber Tawangalun, Donorojo, Pacitan.

Sumber: Tri Hartanto, Tiara Ayu Mumpuni Putri, Agoes Hendriyanto. 2025. Wayang Beber Tawangalun Donorojo Pacitan. Ponorogo: Nata Karya.



Lebih baru Lebih lama