| Gejik Piama, Ketika Linggis Rakyat Menantang Samurai Jepang di Pacitan |
Benda sederhana itu dalam tradisi lisan masyarakat dikenal dengan sebutan “Gejik Piama”. Kisahnya membawa ingatan pada masa pendudukan Jepang di Pacitan, ketika masyarakat hidup dalam tekanan dan ketakutan.
BISMILLAH. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Myisteri.
Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat, peristiwa yang melatarbelakangi kisah Gejik Piama diperkirakan terjadi sekitar 14 Agustus 1945. Saat itu, Jepang berada pada penghujung kekuasaannya setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II.
Dalam kisah tersebut, seorang prajurit Jepang yang disebut bernama Sersan Piama dikabarkan mengalami tekanan berat setelah mengetahui negaranya menghadapi kehancuran akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kondisi tersebut dalam cerita masyarakat kemudian dikaitkan dengan tindakan kekerasan terhadap warga di sekitar Pasar Arjowinangun.
Ketakutan menyelimuti kawasan pasar. Warga memilih tidak banyak keluar rumah. Aktivitas masyarakat menjadi sepi karena mereka khawatir terhadap keselamatan diri dan keluarganya.
Di tengah situasi tersebut, muncul seorang tokoh masyarakat dari Desa Menadi yang dikenal dengan nama Eyang Marni. Dalam tradisi lisan setempat, Eyang Marni disebut memiliki kemampuan bela diri dan dikenal sebagai sosok yang berani membela masyarakat.
Ia kemudian dikisahkan menantang Sersan Piama.
Keduanya bertemu di sekitar Pasar Arjowinangun dengan membawa senjata masing-masing. Sersan Piama membawa samurai Jepang, sementara Eyang Marni hanya membawa sebuah gejik atau linggis.
Pertarungan pun berlangsung sengit.
Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, sabetan samurai diarahkan kepada Eyang Marni. Namun ia berhasil menghindar. Kesempatan tersebut digunakan untuk melakukan serangan balik. Gejik dihantamkan ke tubuh Sersan Piama hingga prajurit Jepang tersebut akhirnya tersungkur dan tewas.
Kisah tersebut kemudian dipercaya masyarakat sebagai salah satu peristiwa yang membuat suasana di sekitar Pasar Arjowinangun kembali aman.
Linggis yang Menjadi Ingatan
Kini, yang menarik bukan hanya cerita pertarungannya.
Ada sebuah benda yang dipercaya berkaitan dengan kisah tersebut.
Gejik atau linggis itu disebut memiliki panjang sekitar 75 sentimeter, berbahan besi, berbentuk lurus, dan mempunyai permukaan besi yang tidak rata. Semula benda tersebut merupakan alat yang digunakan untuk membantu pekerjaan masyarakat.
Tetapi dalam ingatan kolektif, benda itu kemudian memperoleh makna baru.
Ia menjadi simbol keberanian rakyat biasa menghadapi kekerasan pada masa pendudukan.
Samurai berhadapan dengan linggis.
Dua benda yang secara fungsi dan sejarah memiliki dunia berbeda. Samurai merupakan senjata yang melekat pada citra prajurit Jepang, sedangkan gejik adalah alat sederhana yang dekat dengan kehidupan petani dan pekerja.
Pertarungan dalam cerita tersebut akhirnya bukan sekadar duel dua orang. Ia dapat dibaca sebagai simbol perlawanan masyarakat kecil terhadap kekuasaan yang menimbulkan ketakutan.
Dari Alat Bercocok Tanam Menjadi Simbol Perlawanan
Gejik memiliki fungsi sederhana: mengungkit, menggali, memecahkan, bahkan menembus benda keras.
Fungsi tersebut kemudian dapat dimaknai secara filosofis.
Mengungkit berarti mencari jalan keluar. Menghancurkan berarti berani menghadapi hambatan. Menembus berarti tidak berhenti ketika berhadapan dengan sesuatu yang keras.
Karena itu, Gejik Piama dapat dibaca sebagai simbol kehidupan.
Manusia akan selalu berhadapan dengan ujian. Tidak semuanya dapat dihindari. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuatan besar. Kadang-kadang yang diperlukan adalah keberanian untuk menggunakan apa yang ada di tangan.
Pesan filosofisnya sederhana:
hidup harus kuat menghadapi ujian, bukan melarikan diri dari kenyataan.
Sejarah yang Hampir Dilupakan
Kisah Gejik Piama memperlihatkan bagaimana sejarah lokal dapat tersimpan di luar buku-buku sejarah resmi.
Ia hidup dalam cerita orang tua kepada anak-anaknya. Ia melekat pada nama tokoh. Ia terhubung dengan sebuah lokasi. Dan yang paling menarik, ia dikaitkan dengan sebuah benda yang masih dapat ditelusuri keberadaannya.
Di sinilah pentingnya dokumentasi sejarah lokal.
Cerita mengenai Sersan Piama dan Eyang Marni tentu masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tradisi lisan perlu dibandingkan dengan arsip masa pendudukan Jepang, kesaksian keluarga, penelitian sejarah lokal, serta pemeriksaan terhadap benda yang disebut sebagai Gejik Piama.
Namun, terlepas dari proses verifikasi sejarah tersebut, cerita ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat Pacitan memiliki ingatan sejarahnya sendiri.
Ingatan itu jangan sampai hilang hanya karena generasi yang mengetahui cerita tersebut semakin berkurang.
Gejik Piama dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak generasi muda mengenal sejarah Pacitan dari lingkungan terdekatnya. Bukan dari istana, bukan dari medan perang besar, tetapi dari pasar, desa, tokoh masyarakat, dan sebuah linggis yang tampaknya sederhana.
Sebab sejarah terkadang tidak berteriak.
Ia hanya diam.
Menunggu seseorang datang, melihat sebuah benda tua, kemudian bertanya:
“Cerita apa yang tersimpan di balik benda ini?”
Dari pertanyaan itulah literasi sejarah bermula.
Salam Literasi Sejarah.
Pacitan Kota Myisteri.
Penulis: Amat Taufan