Kerupuk Iles-Iles, Jejak Kelaparan dan Keruwetan Hidup Rakyat Pacitan pada Zaman Jepang

Kerupuk Iles-Iles, Jejak Kelaparan dan Keruwetan Hidup Rakyat Pacitan pada Zaman Jepang

 

PACITAN TERKINI -  BISMILLAH.  Salam Literasi Sejarah.  Pacitan Kota Mysteri.  PACITAN tidak hanya menyimpan jejak peradaban dalam bentuk situs, benda purbakala, kesenian, dan tradisi. Di balik kehidupan masyarakatnya, tersimpan pula pengetahuan tradisional yang diwariskan melalui makanan. Salah satunya adalah kerupuk iles-iles, pangan tradisional yang dapat dibaca bukan hanya sebagai produk kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat dalam mengolah sumber daya alam untuk bertahan hidup.

Iles-iles atau tanaman yang dikenal masyarakat luas sebagai porang tumbuh di berbagai kawasan hutan. Bagi masyarakat Pacitan, tanaman tersebut memiliki nilai penting karena bagian umbinya dapat diolah menjadi bahan pangan setelah melalui proses tertentu. Kemampuan mengolah tumbuhan yang tidak dapat langsung dikonsumsi menjadi makanan menunjukkan adanya pengetahuan tradisional yang berkembang melalui pengalaman masyarakat dari generasi ke generasi.

Dalam cerita sejarah yang berkembang di tengah masyarakat, keberadaan olahan iles-iles dikaitkan dengan masa pendudukan Jepang di Pacitan pada 1942–1945. Pada masa tersebut, rakyat mengalami tekanan berat akibat kebijakan pendudukan, pengerahan tenaga kerja, serta persoalan pemenuhan kebutuhan pangan.

Hutan Pacitan yang luas dan kondisi lahannya dinilai memiliki potensi untuk pertumbuhan iles-iles. Dalam situasi perang dan keterbatasan pangan, tumbuhan yang sebelumnya mungkin tidak menjadi makanan utama kemudian memperoleh nilai strategis. Umbi iles-iles dapat diolah lebih lanjut untuk mendapatkan bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan.

Di sinilah kerupuk iles-iles dapat dibaca sebagai sebuah artefak pangan. Ia bukan sekadar makanan yang dikonsumsi untuk mengganjal perut, tetapi menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat menghadapi keterbatasan. Ketika bahan pangan semakin sulit diperoleh, pengetahuan lokal menjadi salah satu modal masyarakat untuk bertahan hidup.

Kerupuk sebagai Cermin Kehidupan

Bentuk kerupuk iles-iles yang memanjang, berliku, dan menyerupai benang atau cacing dapat dimaknai secara simbolik sebagai gambaran kehidupan masyarakat Pacitan pada masa yang penuh tekanan.

Bentuk yang kusut dapat dibaca sebagai simbol keruwetan kehidupan. Tidak ada kepastian tentang hari esok. Rakyat berada dalam situasi serba sulit, kehilangan keleluasaan menentukan kehidupannya sendiri, sementara kebutuhan paling dasar—makanan—menjadi persoalan besar.

Dalam tafsir budaya masyarakat, kerupuk iles-iles kemudian dapat ditempatkan sebagai metafora tentang manusia yang berada dalam kondisi terdesak: tergencet oleh keadaan, kehilangan ruang gerak, tetapi tetap berusaha bertahan hidup.

Kerupuk tersebut seolah menjadi kesaksian bisu bahwa dalam kondisi paling sulit sekalipun manusia memiliki kemampuan untuk menemukan jalan keluar melalui pengetahuan yang dimilikinya.

Pengetahuan Tradisional yang Bernilai Tinggi

Pengolahan iles-iles juga memperlihatkan kecerdasan ekologis masyarakat masa lalu. Umbi tanaman tertentu tidak selalu dapat dikonsumsi secara langsung. Diperlukan pengetahuan mengenai pemilihan bahan, pengolahan, pengeringan, hingga teknik menjadikannya bahan pangan.

Pengetahuan semacam itu merupakan bagian dari pengetahuan tradisional, salah satu unsur yang dapat dikaji dalam kerangka Objek Pemajuan Kebudayaan. Masyarakat tidak hanya mewariskan benda atau makanan, tetapi juga mewariskan pengetahuan mengenai cara mengolah alam agar dapat mendukung keberlangsungan hidup.

Kerupuk iles-iles dengan demikian dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan antara manusia, alam, pangan, dan sejarah.

Ia mengajarkan bahwa sebuah makanan tradisional tidak berhenti pada persoalan rasa. Di baliknya dapat tersimpan teknologi tradisional, pengetahuan ekologis, strategi bertahan hidup, serta ingatan kolektif suatu masyarakat.

Membaca Sejarah dari Sepotong Kerupuk

Sejarah tidak selalu tertulis dalam buku. Kadang-kadang sejarah justru tersimpan dalam benda-benda sederhana yang berada sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Kerupuk iles-iles adalah salah satunya.

Dari makanan sederhana tersebut, kita dapat bertanya: bagaimana masyarakat Pacitan memenuhi kebutuhan pangan ketika berada dalam tekanan? Bagaimana mereka memanfaatkan tumbuhan yang tersedia di lingkungan? Pengetahuan apa yang digunakan untuk mengolah bahan yang sulit menjadi pangan? Dan bagaimana pengalaman pahit masa lalu kemudian diwariskan melalui tradisi kuliner?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan kerupuk iles-iles layak dikaji lebih jauh sebagai bagian dari literasi sejarah dan kebudayaan Pacitan.

Jika kajian sejarah mengenai keterkaitan kerupuk iles-iles dengan masa pendudukan Jepang dapat diperkuat melalui arsip, wawancara pelaku budaya, catatan sejarah lokal, maupun penelitian akademik, maka makanan ini tidak hanya menjadi warisan kuliner. Ia dapat menjadi salah satu situs ingatan masyarakat Pacitan.

Sebab, sebuah bangsa tidak hanya menjaga sejarah melalui monumen. Sejarah juga dapat hidup melalui cerita, tradisi, bahasa, kesenian, dan makanan yang terus diwariskan.

Kerupuk iles-iles mengingatkan kita bahwa dari tengah keterbatasan pun lahir kreativitas. Dari penderitaan muncul pengetahuan. Dan dari makanan sederhana, tersimpan kemungkinan sebuah cerita besar tentang perjalanan masyarakat Pacitan.

Salam Literasi Sejarah.

Pacitan Kota MIsteri.

Semoga Gusti Allah SWT memberikan keberkahan kepada kita semua, keluarga, para penerus perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW, serta bumi, langit, dan seluruh isinya.

Penulis: Amat Taufan

Lebih baru Lebih lama