Sejarah Milik Pemenang, Pacitan Memilih Menulis Sejarahnya Sendiri

Sejarah Milik Pemenang, Pacitan Memilih Menulis Sejarahnya Sendiri


PACITAN TERKINI - Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi perjalanan literasi budaya Pacitan. Dari sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur, lahir sebuah karya yang mencoba merekam perjalanan panjang Pacitan melalui buku berjudul Potret Pacitan: Alam, Demografi, dan Dinamika Budaya.

Buku yang diterbitkan Nata Karya dan ditata grafis oleh Socio Cultura Indonesia ini ditulis oleh Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd., Muhammad Rafid Musyaffa’, S.T., Indah Nawangsari, S.H., dan Amat Taufan, S.Sos. Penyuntingan dilakukan oleh Muhamad Rafid Romadhoni, S.T., dengan dukungan tim penelusuran situs yang terdiri atas Zainal Fanani, S.Pd., Amanda, Muhammad Ifan, dan Muhammad Nurul Huda.

Buku ini menjadi istimewa karena berusaha melihat Pacitan bukan hanya sebagai sebuah wilayah administratif, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak peradaban panjang.

Dari zaman prasejarah hingga perkembangan Pacitan pada abad terkini, berbagai lapisan sejarah dan kebudayaan dihimpun, ditelusuri, didokumentasikan, dan dirangkai menjadi sebuah potret besar tentang Pacitanian.

Dari Tempoe Doeloe hingga Abad Terkini

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada bentangan waktunya.

Pembahasan dimulai dari wilayah dan karakteristik alam, demografi, akulturasi dan keragaman budaya, lokasi geografis, pengaruh Hindu, Buddha, dan Islam, sejarah pendopo, sejarah pelabuhan, hingga jejak adat istiadat Pacitan yang berkaitan dengan warisan Mataram Islam.

Narasi kemudian bergerak memasuki sejarah agraria Pacitan, sejarah Pacitanian pada masa prasejarah, Situs Watupatok, Ki Buwono Keling, perkembangan peradaban, masa Majapahit, dakwah awal, hingga era kolonial.

Sejarah tidak berhenti pada narasi elite dan pemerintahan. Buku ini mencoba menurunkannya hingga ke tingkat masyarakat dan ruang hidupnya.

Di sinilah 12 kecamatan di Kabupaten Pacitan menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Tulakan, Ngadirojo, Pringkuku, Punung, Donorojo, Tegalombo, Nawangan, Bandar, dan Sudimoro ditelusuri melalui berbagai jejak sosial, budaya, sejarah, situs, ritus, kesenian, pengetahuan tradisional, hingga kuliner masyarakat.

Sejarah yang Hidup di Tengah Masyarakat

Membaca Potret Pacitan seperti memasuki ruang-ruang sejarah yang selama ini berada di sekitar kehidupan masyarakat.

Ada makam tokoh, masjid, petilasan, loji Belanda, kawedanan, prasasti, tugu, gua, situs prasejarah, tradisi masyarakat, hingga kesenian yang masih hidup.

Ada pula Wayang Beber, Ceprotan, Kethek Ogleng, Brojo Geni, Badut Sinampurno, Tetaken, Baritan, Jangkrik Genggong, Oglor, serta berbagai pengetahuan tradisional dan kuliner lokal.

Keseluruhan materi tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Pacitan tidak hanya berada di dalam arsip pemerintahan.

Sejarah juga tersimpan di makam, rumah, sawah, gua, sungai, jalan, pakaian, makanan, kesenian, cerita lisan, dan ingatan masyarakat.

Karena itu, buku ini memiliki posisi penting sebagai bagian dari upaya mengarsipkan pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

“Sejarah Milik Pemenang, tetapi Penulis Memiliki Kuasa”

Ada sebuah gagasan yang menjadi ruh intelektual dari karya ini:

“Sejarah milik pemenang; tetapi penulis sejarah punya kuasa untuk menulis sejarahnya.”

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan.

Ia menjadi pengingat bahwa sejarah selalu berhubungan dengan siapa yang memiliki kesempatan untuk mendokumentasikan, menafsirkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Banyak sejarah lokal tidak hilang karena tidak pernah terjadi. Sejarah itu terkadang hilang karena tidak ditulis, tidak diarsipkan, atau tidak diwariskan.

Di sinilah posisi penulis lokal menjadi penting.

Penulis tidak hanya berperan sebagai pencerita. Ia menjadi penghubung antara ingatan masyarakat masa lalu dengan generasi masa depan.

Melalui Potret Pacitan, para penulis mencoba mengambil bagian dalam proses tersebut.

Bukan untuk mengklaim bahwa seluruh sejarah Pacitan telah selesai ditulis, melainkan membuka ruang agar sejarah lokal terus dikaji, diperdebatkan, dikoreksi, dan dikembangkan.

Buku sebagai Arsip Jati Diri

Buku ini juga memiliki pesan yang lebih besar: daerah yang tidak mengarsipkan sejarahnya akan kehilangan sebagian dari ingatannya.

Pacitan memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang sangat beragam. Namun, kekayaan tersebut tidak otomatis menjadi aset peradaban apabila hanya berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut.

Ketika cerita ditulis, sumber ditelusuri, situs didokumentasikan, dan informasi dikaji, maka pengetahuan lokal memperoleh kesempatan untuk bertahan lebih lama.

Karena itu, Potret Pacitan dapat dibaca sebagai bagian dari usaha menjadikan karya tulis sebagai aset sejarah dan kebudayaan daerah.

Buku ini bukan hanya untuk generasi Pacitan hari ini.

Ia disiapkan sebagai salah satu jejak yang dapat dibaca oleh generasi yang mungkin bahkan belum lahir ketika buku tersebut diterbitkan.

Dari Kota Kecil untuk Dunia

Pacitan mungkin secara geografis berada jauh dari pusat-pusat kekuasaan dan kebudayaan nasional.

Namun, jarak geografis tidak pernah menjadi ukuran nilai sebuah peradaban.

Pacitan telah memiliki jejak prasejarah, situs, tradisi, kesenian, tokoh, pengetahuan lokal, serta warisan budaya yang memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah Jawa dan Indonesia.

Karena itu, karya tentang Pacitan tidak seharusnya berhenti sebagai dokumentasi lokal.

Ia dapat menjadi jendela untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat kecil membangun identitas, mempertahankan ingatan, dan menghadapi perubahan zaman.

Inilah yang membuat Potret Pacitan menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan literasi budaya Pacitan pada 2026.

Menuju FGD II dan Peluncuran

Karya tersebut direncanakan menjadi bagian penting dalam FGD II yang akan dilaksanakan sekitar November 2026.

Forum tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan peluncuran buku. Lebih jauh, FGD II diharapkan menjadi ruang dialog mengenai bagaimana sejarah dan kebudayaan Pacitan dapat terus ditulis, dikembangkan, dan diwariskan.

Potret Pacitan sekaligus dapat menjadi pijakan awal menuju gagasan yang lebih besar, yakni pengembangan Pacitan Kota Misteri sebagai karya lanjutan yang menggali berbagai jejak sejarah, situs, legenda, tradisi, dan misteri peradaban yang masih tersimpan di berbagai pelosok Pacitan.

Dengan demikian, satu buku tidak menjadi akhir perjalanan.

Justru sebaliknya, buku menjadi pintu masuk untuk menemukan sejarah berikutnya.

Dan mungkin, di sanalah makna sesungguhnya dari sebuah maha karya.

Bukan karena ia sempurna.

Bukan pula karena ia mampu menjawab seluruh pertanyaan sejarah.

Tetapi karena ia berani mencatat apa yang hampir terlupakan, mengangkat apa yang selama ini terpinggirkan, dan meninggalkan jejak agar generasi berikutnya memiliki bahan untuk menulis sejarahnya sendiri.

Pacitan menulis dirinya sendiri.

Dari tempoe doeloe, masa kini, hingga masa depan.

Dari secangkir kopi di Cafe Literasi, dari percakapan para pemerhati budaya, dari penelusuran desa dan situs, hingga menjadi sebuah buku.

Potret Pacitan adalah sebuah ikhtiar kecil dari kota kecil untuk menjaga ingatan besar sebuah peradaban.

Lebih baru Lebih lama