Hujan di Kota yang Tak Pernah Tidur


Oleh: Agoes Hendriyanto

Hujan sore itu turun tanpa jeda, mengetuk atap rumah kontrakanku seakan ingin menemaniku dalam sepi. Jalanan kompleks begitu lengang, ditinggal penghuninya yang sibuk mengejar mimpi masing-masing. 

Aku duduk di teras, memandangi air yang menetes dari ujung daun dan jatuh ke tanah, membentuk cekungan-cekungan kecil yang berkilau diterpa lampu jalan. Dalam hati, aku ingin sekali berlari keluar, menari bersama hujan, membiarkan airnya menyapu seluruh luka yang kupendam selama ini.

Namaku April, perempuan berusia 35 tahun. Aku lahir di Pacitan  kota kecil di tepi laut yang setiap senjanya berbau garam dan nostalgia. Dulu, hidupku nyaris sempurna: suami, anak, dan rumah kecil yang penuh tawa. Tapi segalanya berubah sejak ia memilih perempuan lain dan meninggalkan aku serta Mei, putriku yang baru berusia lima tahun.

Sejak hari itu, aku tak lagi sama. Luka yang ditinggalkan terlalu dalam. Aku memutuskan meninggalkan Pacitan dan memulai hidup baru di Solo, berharap kota itu bisa menyembuhkan segalanya.

Aku bekerja di sebuah percetakan buku kecil di pusat kota. Tugas utamaku menyunting naskah sebelum naik cetak. Bagi sebagian orang pekerjaan ini membosankan, tapi bagiku membaca tulisan orang lain membuatku seolah tak sendiri. Dari setiap kalimat yang kubaca, aku belajar: hidup tak pernah berhenti hanya karena seseorang memilih pergi.

Kontrakanku kecil, tapi nyaman. Hanya satu ruang yang menjadi segalanya — kamar tidur, ruang tamu, dan ruang kerja. Aku tinggal sendiri karena Lina masih di Pacitan bersama ibuku. Di setiap malam, hanya suara kipas angin dan ketikan jariku di laptop yang menemani.

Tapi di sela kesepian itu, aku mulai dekat dengan  Ahmad, rekan kerjaku. Lelaki Bali berumur 37 tahun, pembuat desain sampul buku dan penyanyi kafe di waktu senggang. Ia jenaka, hangat, dan sederhana. Setiap kali ia berbicara, suaranya membuatku merasa aman — sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku.

Suatu sore, ia datang ke mejaku sambil tersenyum lebar.

“Priil, nanti malam ikut aku, ya?”

“Ke mana?” tanyaku heran.

“Lihat aku nyanyi di kafe. Aku jemput jam setengah tujuh.”

Aku tak berpikir lama. Entah kenapa, aku ingin pergi.

Malam itu Solo berkilau oleh lampu kota. Di panggung kecil, Ahmad menyanyi dengan penuh perasaan.

Suaranya memecah riuh suasana, dan aku hanya duduk di sudut ruangan, menatapnya sambil meneguk minuman dingin. Namun di tengah nyanyiannya, mataku tiba-tiba berhenti pada satu wajah di meja sebelah.

Seseorang yang dulu sangat kukenal.

Rasanya seperti melihat bayangan masa lalu yang kembali menghantamku. Tatapan itu, cara ia menggenggam gelas, bahkan garis senyumnya yang samar  aku tak mungkin salah. Alfian.

Laki-laki yang dulu pernah mengisi hatiku, sebelum aku memilih meninggalkannya demi seseorang yang kini bahkan tak lagi kutahu kabarnya.

Aku menghampirinya pelan.

“Fian?” suaraku nyaris tak terdengar.

Ia menoleh. Wajahnya menegang, lalu matanya melembut.

“Melinda?” katanya dengan suara bergetar. “Kamu ke mana aja selama ini? Aku mencarimu.”

Air mataku jatuh begitu saja. Di antara hiruk pikuk kafe, waktu seperti berhenti. Aku ingin menjelaskan segalanya  tentang kebodohanku, tentang luka, dan tentang penyesalan yang tak kunjung sembuh.

Kami berbicara singkat malam itu, sekadar bertukar nomor telepon. Tapi dalam dada, sesuatu yang telah lama padam tiba-tiba berpendar kembali.

Tengah malam, saat aku sudah berbaring, terdengar ketukan di pintu.
“Priil, ini aku, Alfian.”

Aku tergesa membukakan pintu. Wajahnya lelah, matanya sembab. Ia duduk di tepi ranjang dan menatapku dalam diam.

“Ada apa?” tanyaku pelan.

Ia menghela napas panjang.

“Wati selingkuh, Priil. Aku lihat sendiri malam ini.”

Tangisnya pecah. Lelaki yang dulu kukenal tegar kini menangis di pelukanku. Aku tak berkata apa-apa, hanya merengkuhnya, memberi ruang agar ia tak merasa sendiri.

Malam itu kami berbicara panjang. Tentang masa lalu, tentang luka yang sama-sama kami derita. Saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi, aku memintanya beristirahat di kontrakanku. 

Kontrakan kecil dengan ditemani oleh putriku yang telah berusia 8 tahun. Walaupun kontrakaan kecil masih bisa digunakan untuk tidur terpisah.  Kami bukan muhrim.

Keesokan paginya Alfian terbangun dengan mengambil air wudhu di Mushola di depan kontrakanku. 

Sebelum kembali aku sudah persiapkan kopi dan sambal goreng kentang. Aku memasak untuknya. S

“Masakanmu masih seenak dulu,” katanya sambil menyeruput kopi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa lepas. Tawa yang bukan karena basa-basi, tapi karena benar-benar bahagia.

Kami sarapan bersama. Ia bercerita tentang bengkel dan balap motor yang menjadi hidupnya. 

Aku bercerita tentang Lina dan pekerjaanku di percetakan. Dalam setiap kata, aku merasa semakin dekat dengannya  tapi juga semakin takut kehilangan lagi.

Siangnya, ia pulang. Aku mengantarnya sampai depan pintu.

“Aku akan datang lagi,” katanya sebelum berlalu.

Dan aku hanya tersenyum, meski hatiku bergetar hebat.

Hari itu, hujan turun lagi. Tapi kali ini, aku tak merasa sepi. 

Aku tahu, di antara derasnya rintik dan aroma tanah basah, ada harapan yang perlahan tumbuh kembali.

Lebih baru Lebih lama