Goa Tabuhan Punung: Ruang Rekreasi Alam Kaum Priyayi Pacitan Awal Abad ke-20


PACITAN TERKINI - Pada awal abad ke-20, Goa Tabuhan di Punung, Pacitan, bukan sekadar rongga alam di perut pegunungan kapur. Goa ini menjelma menjadi ruang rekreasi eksklusif, tempat kaum priyayi dan elite lokal melepas penat, menikmati alam, sekaligus membangun relasi sosial di luar hiruk-pikuk aktivitas pemerintahan dan kehidupan sehari-hari.

Foto-foto lama memperlihatkan suasana Goa Tabuhan sebagai tempat berkumpul yang hidup. Di bawah langit-langit goa yang menjulang dengan dinding batu berlapis stalaktit dan stalagmit, tampak rombongan pria dan perempuan berpakaian rapi—ciri khas kaum priyayi masa kolonial. Mereka duduk tertata, sebagian di atas tikar, sebagian di kursi sederhana, menciptakan suasana santai namun tetap berwibawa.

Goa Tabuhan menawarkan sensasi berbeda dibanding ruang terbuka biasa. Udara sejuk alami, akustik goa yang khas, serta pencahayaan remang-remang menjadikan tempat ini ideal untuk “refreshing” ala zamannya. Aktivitas rekreasi tidak melulu bermakna bersenang-senang, melainkan juga ruang perenungan, pertemuan sosial, hingga pertunjukan kecil. Nama “Tabuhan” sendiri merujuk pada tradisi bunyi-bunyian, di mana dinding goa dapat menghasilkan suara unik saat dipukul—menambah daya tarik hiburan alami bagi para pengunjung.

Bagi kaum priyayi Punung dan sekitarnya, berkunjung ke Goa Tabuhan adalah penanda status sekaligus cara menikmati waktu luang secara berkelas. Rekreasi dilakukan dengan tetap menjaga tata krama, busana, dan hierarki sosial. Goa menjadi ruang peralihan antara alam dan budaya, antara kesunyian batu kapur dan percakapan sosial yang hangat.

Keberadaan Goa Tabuhan sebagai tempat rekreasi pada awal abad ke-20 juga menunjukkan bagaimana masyarakat Pacitan telah lama memanfaatkan alam bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan dan relaksasi. Goa ini menjadi saksi bisu pertemuan alam, kolonialisme, dan tradisi lokal yang berpadu dalam satu ruang.

Kini, ketika Goa Tabuhan dikenal luas sebagai destinasi wisata dan situs budaya, jejak masa lalu itu tetap terasa. Goa ini menyimpan cerita tentang cara orang-orang zaman dulu menikmati hidup—tenang, berjarak dari hiruk-pikuk, dan selaras dengan alam.

Penulis: Agoes Hendriyanto



Lebih baru Lebih lama