| Areng Balap: Dari 150 Karung ke Pabrik, Menghidupkan Ekonomi Petani lewat Jual Beli Arang |
PACITAN TERKINI – Usaha
jual beli arang menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang masih dijalankan oleh masyarakat.
Salah satunya adalah Areng Balap, usaha yang bergerak dalam pengumpulan
dan penjualan arang dari para petani. Usaha tersebut tidak hanya melayani
kebutuhan pasar, tetapi juga menyalurkan arang ke sejumlah pabrik yang
memanfaatkannya sebagai bahan campuran dalam pembuatan briket.
Usaha Areng Balap mulai dijalankan pada tahun 2007. Pemilik usaha tersebut awalnya melanjutkan pekerjaan suaminya yang sebelumnya menjadi pembeli arang. Pada awal menjalankan usaha, arang dikumpulkan dari petani kemudian dikirim ke Pasar Yogyakarta menggunakan truk dengan muatan sekitar 150 karung. Kegiatan tersebut terus dilakukan dan menjadi awal perjalanan usaha Areng Balap hingga dapat berkembang seperti sekarang.
“Awalnya di tahun 2007 saya ditinggalkan suami
saya yang dulunya sebagai pembeli arang. Dengan begitu saya melanjutkan dan
menggeluti jual beli arang. Saya kirimkan ke Pasar Yogyakarta dengan truk
dengan membawa kisaran 150 karung,” ujar Ibu Eni, Sabtu (3/10/2026) pemilik Areng
Balap.
Seiring
berjalannya waktu, Ibu Eni mulai mencari pembeli dan tujuan pengiriman lain
agar usaha yang dijalankannya dapat terus berkembang. Dari proses tersebut, ia
kemudian menemukan pasar di sejumlah pabrik yang berada di Blora dan Semarang.
Pengiriman ke pabrik tersebut dilakukan dengan jumlah yang lebih banyak, yakni
sekitar 265 karung dalam sekali pengiriman. “Seiring berjalannya waktu, saya
mencari-cari pembeli lain dan ternyata ada di pabrik Blora dan Semarang. Untuk
pengiriman ke sana saya membawa kisaran 265 karung,” lanjut Ibu Eni.
Dalam
menjalankan usaha jual beli arang, Areng Balap juga menghadapi persaingan
dengan pedagang arang lainnya. Persaingan tersebut menjadi bagian dari kegiatan
perdagangan karena terdapat pedagang lain yang juga mencari pasokan arang dari
petani dan menawarkan hasilnya kepada pembeli. Kondisi tersebut membuat
pedagang perlu menjaga hubungan dengan petani pemasok serta mempertahankan
kelancaran pengiriman kepada pembeli.
Di
sisi lain, usaha tersebut juga memberikan kesempatan bagi petani untuk
memperoleh penghasilan dari material kayu yang tersedia di sekitar mereka.
Salah seorang petani pemasok arang, Ibu Sri, mengatakan bahwa dirinya
memilih menjual arang karena banyak material kayu yang tidak terpakai.
Menurutnya, material tersebut dapat diolah menjadi arang sehingga memiliki
nilai jual. “Saya lebih memilih menjual arang karena di sini material kayu
banyak dan tidak terpakai. Untuk proses penjualannya, saya menjual per karung
dengan kisaran harga Rp40.000. Kalau sudah lebih dari 20 karung baru terjual,”
ungkap Ibu Sri.
Dalam
prosesnya, bahan untuk membuat arang tidak hanya berasal dari material kayu
yang tersedia di sekitar petani. Terkadang petani juga mendapatkan tawaran
bahan kayu dari juragan kayu. Ibu Sri menjelaskan bahwa satu truk dobel
rencekan kayu dapat dibeli dengan harga sekitar Rp1.200.000. Setelah diolah
menjadi arang, kayu tersebut dapat menghasilkan sekitar 40 karung. Hasil
tersebut membuat petani masih dapat memperoleh keuntungan dari proses
pengolahan dan penjualan arang.
Arang
yang dikumpulkan oleh Areng Balap kemudian dikirim ke berbagai tujuan sesuai
dengan kebutuhan. Untuk pengiriman ke pabrik, arang dimanfaatkan sebagai bahan
campuran dalam pembuatan briket. Selain itu, granul yang dihasilkan juga dapat
dimanfaatkan kembali atau dijual kepada toko bunga sebagai bahan pupuk.
Bapak
Nanda, salah seorang narasumber, menjelaskan bahwa
pemanfaatan arang di pabrik berkaitan dengan proses pembuatan briket. “Arang
Balap ketika di pabrik digunakan sebagai campuran briket. Untuk granulnya bisa
dipakai atau dijual lagi pada toko bunga sebagai pupuk,” jelas Bapak Nanda.
Keberadaan
usaha jual beli arang juga memberikan manfaat bagi para petani. Dengan adanya
pembeli yang menampung hasil produksi, petani dapat memperoleh tambahan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, harga arang tidak selalu
sama sepanjang waktu karena dapat mengalami perubahan berdasarkan musim. Saat
musim kemarau, harga arang cenderung berada di kisaran Rp40.000 per karung.
Sementara itu, ketika memasuki musim penghujan, harga dapat meningkat hingga
Rp50.000 sampai Rp55.000 per karung.
“Manfaat
usaha arang ini bagi petani tentunya menambah penghasilan buat keluarga. Harga
arang pada musim kemarau akan turun, berbeda ketika memasuki musim penghujan.
Biasanya harga Rp40.000 bisa mencapai Rp50.000 sampai Rp55.000,” ujar Bapak
Nanda.
Selama sekitar 19 tahun menjalankan usaha, Areng Balap terus melakukan pengumpulan dan pemasaran arang dari petani ke berbagai tujuan. Perjalanan usaha yang dimulai dari pengiriman ke Pasar Yogyakarta kemudian berkembang hingga menjangkau pabrik di Blora dan Semarang. Bagi petani, keberadaan usaha tersebut menjadi salah satu tempat untuk memasarkan arang hasil produksi mereka. Sementara bagi pabrik dan pasar, arang yang dikumpulkan dapat memenuhi kebutuhan sebagai bahan bakar maupun bahan baku untuk keperluan lainnya.
Penulis: Ion Bunga Fauzia Priandini-PBSI STKIP PGRI Pacitan